Fukkatsu no Yume (part.4)

“Jangan dekati itu, miss!”, teriak petugas pemadam kebakaran menghalangi Ai. Lalu terdengar teriakan histeris seorang wanita, Ai menoleh, wanita itu sedang menunjuk ke atas, Ai & semua orang juga ikut melihat ke langit. Terlihat ada 3 buah objek terbakar melesat cepat ke arah bumi, masing-masing sebesar bola basket, dengan ekor api yang menyala-nyala. Belum sempat Ai bereaksi, salah satu bola api itu sudah menghantam salah satu mobil yang sedang diparkir cukup jauh dari tempat Ai berdiri di pinggir jalan besar itu. Mobil itu langsung meledak hancur. Dua bola api yang lain melesat menabrak lantai 5 & 7 gedung tempat pesawat tadi bersarang, seluruh kaca gedung di sekitarnya hancur menghujani tanah.

“What the..?!?!”, pekik Ai terheran-heran melihat kehancuran itu. Ai lalu menutup HP kakaknya & berjalan cepat melewati orang-orang yang dilanda kepanikan. Belum sampai 5 langkah, terdengar teriakan-teriakan histeris dari orang-orang sekitar, Ai menoleh, ternyata semakin banyak bola api yang melesat cepat ke arah bumi. Tanpa pikir panjang, Ai langsung berlari mendatangi papa & mamanya. Orang-orang di sekitarnya juga mulai berlarian menyelamatkan diri. Di jalan Ai bertemu dengan Kumiko yang juga berlari ke arah gedung tempat papa & mama menunggu. Sesekali Ai menoleh ke belakang memastikan tidak ada bola api yang meluncur ke arah mereka. Terdengar beberapa dentuman & ledakan di belakang mereka, baik yang di kejauhan & yang dekat. Saat masuk ke lobi gedung itu, keadaan sudah penuh sesak. Tapi untunglah papa & mama berdiri di dekat pintu keluar, maka itu mereka mudah ditemukan.

“Ada apa lagi itu?!?”, teriak papa keheranan melihat kerusuhan di luar gedung.

“Hujan meteor!!”, seru Ai & Kumiko bersamaan. Papa terbelalak mendengarnya, lalu berjinjit melihat keadaan di luar. Benar saja, terlihat beberapa bola api terus melesat menabrak bumi bersahut-sahutan tak tentu arah. Ledakan & kehancuran terlihat dimana-mana.

“Ini HPmu, ngga jadi, nanti aja kalo selamat”, kata Ai menyerahkan HP kakaknya kembali.

“Kita ngga bisa tinggal diam di sini! Kita harus menyingkir! Saat tempat ini terlalu penuh, kita nanti malah akan terjebak & jadi sasaran empuk di dalam. Ayo! Segera lari keluar!”, seru papa sambil mendorong-dorong anak & istrinya keluar gedung, memecah gelombang orang yang justru berlarian masuk.

“Kok malah keluar sih pa?!”, teriak Kumiko sambil terus berlari di samping papa setelah keluar gedung. Terdapat banyak sekali orang yang juga berlarian dimana-mana. Ai berkali-kali menengok ke atas depan & belakang, memastikan tak ada meteor manapun yang akan menghantam mereka.

“Kita harus cari tempat aman! & di dalam gedung tadi itu tidak aman!”, kata papa terengah-engah sambil berlari. Ada sebuah meteor seukuran bola basket menabrak mobil yang sedang melaju di tengah jalan meledak sampai terbalik, Ai & keluarga yang berlari di samping jalan itu berteriak & menunduk kaget, lalu bangkit & melanjutkan larinya lagi.

“Kita harus lari kemana, pa?”, Tanya sang mama yang kimononya sudah berantakan.

“Awaaass..!!!”, Kumiko berteriak saat sebuah meteor berukuran sangat besar melesat menabrak menembus gedung tinggi di samping mereka. Tabrakan itu begitu hebat, seluruh tanah bergetar karena meteor itu, & dari tempat meteor itu mendarat di tanah terlihat kawah besar yang sudah dibuat meteor besar itu. Semua jatuh terduduk saat meteor itu menabrak tanah. (“Untuuuuung aja jatuhnya ke arah sana… kalau ke arah sini, kita sudah ikut hancur”), batin Ai melihat kawah besar yang baru saja terbuat itu, lalu ia mendongak ke atas, gedung itu sekarang terlihat berlubang besar di bagian tengahnya.

“Oh no… gedung itu akan runtuh.. Ayo kita menyingkir!! Cepat!!”, teriak Ai menarik-narik mamanya bangkit. Benar saja, seketika itu terdengar gemuruh gedung itu akan hancur runtuh menimpa mereka. Mereka yang sedang melintas di situ, juga ikut berhamburan menjauhi gedung. Saat berlari terdengar gemuruh reruntuhan gedung yang menghujam tanah di belakang mereka. Akhirnya mereka tiba di persimpangan & langsung berbelok masuk gedung di ujungnya menghindari semburan puing-puing gedung yang baru saja hancur. Ternyata mereka baru saja memasuki sebuah restoran fast food yang tampak kosong, hanya berisi beberapa orang yang juga berusaha menyelamatkan diri dari runtuhnya gedung tadi. Sambil masih terengah-engah, Ai menengok berita yang sedang muncul di TV dalam restoran itu, terlihat judul dari berita itu “Plane crash hit by a meteor”.

“Hey.. lihat itu..”, kata Ai kepada semua orang. Semua org ikut menengok.

“Baru saja terjadi sebuah kecelakaan pesawat yang disebabkan oleh tabrakan sebuah meteor di jantung kota New York. Meteor tersebut diperkirakan merupakan gelombang awal dari hujan meteor yang akan terus menghujam Amerika Utara sampai akhirnya… “, belum selesai berita itu disampaikan, tiba-tiba sebuah bola api menghantam jendela kaca & menghancurkan salah seorang wanita yang ikut melihat berita itu di dalam restoran. Kini tubuhnya sudah hancur melesak ke dalam tanah dihantam meteor tadi. Laki-laki yang tadi berdiri di sampingnya, ikut terciprat darah wanita berrambut pirang itu. Mama & laki-laki itu sama-sama berteriak histeris, lalu laki-laki itu dengan beberapa orang lainnya berhamburan keluar restoran. Papa & mama ikut berlari keluar. Ai juga ikut berlari, tapi berhenti di pintu karena ternyata Kumiko pingsan melihat peristiwa berdarah itu. Ai berbalik & berusaha menyadarkan Kumiko yang terkapar di lantai.

“Oneechan..!! Oneechaaan..!!! Okitee..!!!”, teriak Ai panik memukul-mukul wajah Kumiko.

“Oh God.. Please wake up..!!”, Ai memohon sambil terus memukuli wajah Kumiko. Akhirnya, Kumiko mulai siuman, awalnya tampak bingung, tapi kemudian wajahnya kembali menunjukkan kepanikan yang sama seperti tadi.

“Eughh.. Knapa gw tadi?”, tanya Kumiko memegangi kepalanya.

“Neechan tadi pingsan.”, jawab Ai sambil sesekali melihat ke arah luar.

“Hah? Gw pingsan?”, tanya Kumiko perlahan bangkit.

“Iya.. karena itu.. Eh sudah! Jangan lihat! Nanti pingsan lagi, ayo kita keluar dari sini”, ajak Ai keluar restoran sambil mengalihkan pandangan dari lubang menganga di lantai.

“Papa & mama mana?”, tanya kumiko sambil berlari di samping Ai.

“Entahlah… tadi sudah lari keluar duluan. Tapi karena oneechan pingsan, maka aku kembali menyadarkan kakak.”, jawab Ai sambil melemparkan pandangannya ke segala penjuru, berharap dapat menemukan papa & mama.

“Ah gw bodoh! Pake pingsan segala..”, Kumiko kesal sendiri.

“Sebaiknya kita cari arah kembali ke hotel aja, mungkin papa & mama langsung ke sana”, kata Ai. Terlihat ada seorang pria  yang berlari melewati Kumiko dengan kepala yang bercucuran darah.

“Oke.. Kita cari hotel kita. Tapi kemana arahnya?”, tanya Kumiko.

“Wakaranai… yang penting kita sambil cari tempat aman untuk berlindung… Akh!”, jawab Ai yang seketika itu lengan kanannya ditabrak seorang pengendara sepeda.

“Lu gapapa?”, Tanya Kumiko lagi. Ai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak peduli, lalu menganga lebar menunjuk ke belakang Kumiko. Di persimpangan sebelah kiri tempat Ai baru saja lewat, terlihat di kejauhan ada sebuah helicopter yang sedang menukik tajam, kabin helicopter itu sudah terbakar, & akhirnya jatuh menghantam sebuah bis yang terparkir miring tengah jalan. Ai & Kumiko langsung meringkuk berlindung di balik mobil yang sedang terparkir untuk menghindari api & puing-puing yang terlempar berserakan.

“Bener-bener neraka…”, gumam Kumiko sambil merangkul Ai & melihat sekitar apakah sudah cukup aman untuk mereka menyingkir lagi.

“Beruntung banget dah kita pas ke sini, malah pas disaster seperti ini. Where should we go..? kalo ke hotel terlalu jauh, bisa-bisa kita tidak selamat sampe sana”, kata Ai saat mereka mulai melanjutkan lari.

“Hotel juga belum tentu jadi tempat yang aman. Kita harus ke bawah tanah…”, jawab Kumiko sambil melihat berkeliling. Ai tiba-tiba menangkap salah satu orang kulit hitam yang berlari melewati mereka.

“Where’s the nearest subway?”, tanya Ai.

“It’s over there… near the Central park, 4 blocks from here, it’s on the left, you can’t miss it”, jawab pria kulit hitam itu sambil menunjuk ke arah kanan Ai.

“Ok, thanx sir!”, jawab Ai melepaskan pria itu, & mereka berduapun segera berlari ke arah yang ditunjuk..

“But… hey!! The trains are not working anymore now!!”, teriak pria itu di belakang mereka. Sambil terus berlari, Ai sedikit menoleh ke belakang & berteriak balik.

“Yeah… we know!!”, lalu Ai kembali berlari. Pria itu heran menatap mereka, lalu melanjutkan larinya & menghilang di belokan. Jarak 4 blok itu sungguh terasa sangat jauh, Ai & Kumiko mulai terengah-engah, akhirnya mulai terlihat di sebelah kiri mereka Central park yang siang itu mereka datangi. Kini tampak beberapa kobaran api besar di tengah taman yang terlihat menyala di gelapnya taman malam itu, sepertinya Central park juga tak luput menjadi sasaran meteor-meteor untuk mendarat. Ai sempat menghentikan larinya & terpana melihat pemandangan kota New York malam itu. Puncak-puncak gedung tinggi yang berasap & menyembulkan api, jalanan yang terlihat hancur berlubang-lubang, suara teriakan-teriakan orang-orang yang berlarian lalu-lalang, suara-suara ledakan & sirine di kejauhan, langit malam terlihat begitu terang oleh kobaran-kobaran api dimana-mana.

“ya Tuhan… Kiamat kah ini?”, tanya Ai merenung. Kumiko berbalik mendatangi adiknya.

“Ayo, Ai-chan! Dikit lagi kita sampe kok! Ayo…”, ajak Kumiko menarik lengan Ai, mereka segera berlari lagi.

“Nah! Itu di sana!”, seru Kumiko menunjuk sebuah tangga turun ke bawah tanah yang di atasnya terdapat papan besar bertuliskan Central Park West Subway. Terlihat beberapa orang yang berlari panik keluar subway. Ai & Kumiko segera berlari turun. Terdengar dentuman keras dari kejauhan di belakang mereka. Di dalam stasiun subway itu sudah terlihat kosong, hanya terdengar suara TV sayup-sayup yang menyala di dalam ruang loket penjual tiket subway. Lampu-lampu yang menyala berkedip-kedip seperti akan padam. Ai & Kumiko yang terengah-engah, bersandar pada tembok samping tangga turun.

“Now we’re here… then what?”, tanya Ai membungkukkan badannya kelelahan berlari.

“Untuk sementara, kamu berlindung dulu di sini, setidaknya sampe hujan meteor itu mereda.”, kata Kumiko menegakkan badannya.

“Lalu oneechan sendiri bagaimana?”, tanya Ai bingung.

“Aku akan keluar berusaha mencari papa & mama, & bantuan juga kalo ketemu…”, jawab Kumiko yang kemudian membuat Ai menjadi cemas.

“So I’m just stay in here? NO!”, seru Ai menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.

“Kita baru aja sampe, oneechan! Masa kakak langsung mau keluar lagi?”, kata Ai. Tanah bergetar pelan & lampu dalam stasiun berkedip lagi, sepertinya ada meteor yang menghantam tanah di luar sana. Kumiko kemudian memegangi kedua lengan Ai.

“Tadi kita kehilangan papa & mama gara-gara gw, jadi sekarang harus gw yang cari mereka”, kata Kumiko.

“Ngga! Kita cari bareng…”, pinta Ai.

“Dame!! Kamu harus tetap berlindung di sini, di bawah sini lebih aman daripada di luar sana”, kata Kumiko melarang Ai keras.

“Lalu neechan bagaimana? Di luar sana tidak aman…”, jawab Ai.

“I’ll be fine. Shinpai shinaide…”, kata Kumiko tersenyum.

“Kamu tunggu di sini ya, kalau dalam setengah jam gw gak balik, kamu gak usah tunggu gw lagi, kamu langsung keluar cari pertolongan, gw yakin saat itu hujan meteor mestinya udah berhenti.”, kata Kumiko.

“Apa maksudnya klo neechan gak balik?”, tanya Ai sedih.

“Denger ya, Ai-chan… Kamu harus janji, that you WILL survive”, kata Kumiko mempererat cengkraman di kedua lengan Ai & menatapnya lekat-lekat.

“No matter what, you HAVE TO survive! Mengerti kamu?!”, kata Kumiko bersungguh-sungguh. Ai gemetar, karena ia seperti bisa merasakan inilah saat terakhir ia masih melihat kakaknya.

“You have to promise, Ai-chan! Jadi nanti kita semua bisa bersama-sama pulang ke rumah dengan selamat, dengan papa & mama juga, bertemu lagi dengan Yoshi & keluarga di Jakarta, & gw juga bisa ketemu suami & anak gw lagi di Tokyo, & kamu juga bisa bertemu lagi dengan orang yang paling kamu sayang. You hear me, Ai-chan..? you have to promise!”, kata Kumiko. Wajah Ai menegang, lalu ia mengangguk pelan.

“Say it, Ai-chan!”, Kumiko mengguncang Ai.

“I promise…”, jawab Ai yakin. Lalu Kumiko memeluk Ai erat.

“Good… I always know you’re a though girl…”, kata Kumiko sambil memeluk Ai. Setelah Kumiko melepaskan pelukannya, ia mulai berjalan menaiki tangga keluar, sambil menyembunyikan air mata yang mulai mengalir di pipinya.

“Oneechan juga janji!”, seru Ai di belakang Kumiko, Kumiko hanya berbalik & tersenyum, lalu menghilang di ujung atas tangga. (“Oneechan…”), batin Ai saat sempat melihat Kumiko yang menangis saat berlari ke atas. Kemudian Ai melihat ke sekelilingnya, stasiun itu tampak sepi, diiringi sayup-sayup suara ricuh & berbagai dentuman keras di luar. (“Papa… mama… gw harap mereka gapapa, oneechan juga…”), harap Ai cemas dalam hati. Lalu ia meraba saku gaunnya & mengeluarkan HPnya.

“Choushi-kun… gw harap lu gapapa…”, Ai berbicara sendiri sambil menggenggam Shiroi usagi. (“Jakarta juga kena ngga ya? Gw harus kasih kabar ke Choushi…”), kata Ai dalam hati. (“Akh!! Sial..!! Hpnya udh gw balikin ke neechan… aduuhh… gimana caranya gw kirim kabar ke Choushi…”),  Ai merosot duduk di lantai, sedih & putus asa tak punya cara untuk menghubungi Choushi. Air mata menetes di pipinya yang terluka, (“what should I do… I wanna talk to Choushi… Just once more…”), pikir Ai sedih. Lalu ia perlahan mendongakkan kepalanya melihat sekitar, berharap akan menemukan sebuah telpon umum. Walau Ai sendiri tak yakin apakah idenya mencari telepon umum akan bisa membuatnya menghubungi Choushi, ia tetap bangkit & berjalan mendekati loket penjual karcis yang kini sudah kosong. Terdengar suara TV yang makin jelas saat Ai berada di depan kaca loket. Ai menengok-nengok ke bagian dalam, berharap menemukan pesawat telepon, kecewa karena yang ada hanya tumpukan tiket yang belum terjual & sebuah buku catatan kecil.

“…. Memang sayang sekali pemerintah tidak memberitahukan masyarakat tentang akan datangnya bencana ini. Jika saja pihak pemerintah mau berbaik hati untuk memberi peringatan kepada seluruh warga, tentu korban yang berjatuhan & persiapan menghadapi kehancuran ini bisa diantisipasi.”, kata-kata reporter berita di TV mengalihkan perhatian Ai. Walau kaca loket itu sudah retak, tapi Ai masih dapat melihat judul dari berita di TV itu, “The End is Here”.

“Hampir sebagian besar kota-kota besar di belahan bumi Amerika bagian Utara terkena dampak paling parah dari hujan meteor yang saat ini terjadi, seperti Washington D.C, New York, Ottawa, dan sebagainya. Sungguh mengerikan saya harus menyampaikan berita ini, tapi hujan meteor yang menghancurkan tersebut hanyalah awalan dari apa yang sebenarnya akan menabrak bumi. Dalam waktu kurang lebih 20 menit dari sekarang, oh maaf… maksud kami 17 menit dari sekarang, meteor raksasa berukuran 1/9 ukuran bumi, akan menabrak di daerah Tulsa, Oklahoma. Setelahnya dampak akan menjalar sampai ke kota-kota pesisir pantai Amerika, & terus sampai permukaan bumi manapun yang kami sendiri tidak tahu pasti.”. Ai gemetar hebat mendengar penjelasan yang baru saja disampaikan oleh reporter itu.

(“meteor… menabrak bumi… jadi, bumi akan hancur…?”), batin Ai diliputi kengerian membayangkan bahwa semua yang ada di bumi akan musnah, dalam waktu kurang dari 20 menit. (“Ini ngga mungkin…papa, mama, neechan, niichan, gimana? gw juga masih mau pulang dulu… Choushi-kun…”), Ai ambruk di tempat & menangis terduduk.

“Ini ngga mungkin… mungkin ini cuma mimpi, seperti mimpi-mimpi buruk gw yang selalu tentang kiamat… This can’t be happening…”, Ai berbicara sendiri menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu ia kembali memeluk kelinci putih kesayangannya.

“Gw mau ketemu lu dulu… gw mau liat muka lu dulu… gw harus bisa ketemu lu dulu…”,katanya terisak memeluk Shiroi usagi. Tiba-tiba terdengar ledakan besar di kejauhan dalam terowongan jalur kereta subway. Ai mendongak & mengantongi HPnya lagi. Suara ledakan itu menjadi suara gemuruh, yang makin lama makin keras mendatangi Ai. Ai segera bangkit, & terperanjat melihat kobaran api besar yang menyembur memenuhi terowongan jalur kereta bergerak cepat ke arahnya.

“Apa-apaan iniii..?!?!”, teriak Ai segera berlari ke arah tangga, ia bisa merasakan hawa panas mengejar di belakangnya.

“Kyaaaa…!!!”, teriak Ai histeris saat pipa-pipa air di atasnya hampir jatuh menimpanya saat mulai menaiki tangga. Ai dengan sigap sempat menghindar mundur, lalu segera melompati 2 anak tangga tempat pipa-pipa itu runtuh. Hawa panas mulai terasa menggigiti tubuh bagian belakangnya. Benar saja, saat melompat di tangga teratas, api sempat menyambar kakinya, & Ai pun terlempar sejauh 3 meter ke depan dan tubuhnya mendarat keras di aspal. Ai langsung tak sadarkan diri. Beberapa meter dari tempat Ai mendarat, terlihat tutup got di jalan seberang terlempar ke atas karena ledakan api dari dalamnya, begitu juga tutup got di jalan selanjutnya, & seterusnya. Tampaknya  ada ledakan pipa gas yang memenuhi ruang bawah tanah di kota itu. Daerah itu sudah mulai terlihat sepi, hanya sesekali masih ada bola api meteor yang menghantam tanah di kejauhan. Cukup lama Ai pingsan, kira-kira perlu waktu 5 menit sampai Ai mulai siuman & membuka matanya. Perlahan ia mengangkat kepalanya, kepalanya begitu sakit, ia memegang keningnya, terlihat darah segar menempel di tangannya, rupanya keningnya terluka cukup parah.

“Eughhh…”, erang Ai kesakitan mengangkat badannya terduduk di jalan. Pandangannya kabur, ia melihat bayangan kobaran api di kejauhan. (“Oh Tuhan… apa yang terjadi?”), pikir Ai sambil perlahan bangkit berdiri, lalu ia melihat sekeliling, pandangannya mulai jelas kembali.

“Subway itu… meledak…”, gumam Ai sendiri setelah melihat tangga turun menuju subway & papan besar di atasnya telah hancur menghitam karena ledakan tadi. Perlahan Ai kemudian berjalan mendekati persimpangan sebelah utara tempat Ai berjalan.

“Hujan meteor… sudah berhenti ya?”, kata Ai sendiri menatap berkeliling ke arah langit. Baru saja ia menengok berkeliling, matanya kemudian menangkap sesuatu yang sangat mengerikan di langit malam bagian barat. Terlihat seperti ada sebuah bulan yang tampak begitu besar & dekat dalam atmosfir bumi. Perlahan tapi pasti, meteor raksasa itu bergerak memasuki atmosfir bumi & terus mendekat. Di sekitarnya terdapat meteor-meteor kecil yang mendampingi meteor raksasa tersebut. Ai menutup mulutnya, terperangah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kepalanya menjadi sangat sakit.

“Oh my God…, neechan, dimana kamu? Papa.. mama…..”, Ai terduduk di jalan, kehilangan semua harapan.

“Choushi-kun…”, katanya lalu mengambil HPnya & melihat Shiroi usagi.

“No….”, kata  Ai sedih, ia sangat kaget ternyata bagian badan dari kelinci putih itu sudah hancur dalam kantungnya, & yang tersisa adalah bagian kepalanya yang masih menempel di talinya. Ternyata Shiroi usagi tertindih badan Ai sendiri saat tadi terlempar ledakan dari dalam subway, sehingga badannya remuk di dalam saku gaun Ai. HPnya sendiri juga sudah rusak, keypadnya sudah terlepas dari badannya.

“No…”, Ai berlinang air mata sambil mengeluarkan sisa badan kelinci porselen itu dari dalam sakunya, tangannya terluka saat tergores bagian yang tajam dari pecahan itu. Ai memeluk erat semua bagian Shiroi usagi, tak peduli tangannya perih tergores semakin dalam. Terdengar di kejauhan sayup-sayup suara sirine. Ai mendongak, & melihat sebuah ambulan berbelok di persimpangan yang cukup jauh dari tempatnya terduduk.

“Untuk apa berusaha menyelamatkan diri…? Untuk apa berusaha berlindung…? Siapapun takkan ada yang bisa selamat dari meteor itu…”, katanya sedih menatap meteor raksasa yang terlihat sudah semakin dekat.

“I wish mom & dad are here… I wish Kumiko & Yoshi are here too… I wish Choushi-kun is here….”, Ai makin terpuruk dalam tangisnya sendiri.

Pikiran Ai mengingat kembali saat papa & mamanya mengantarnya saat wisuda, 4 tahun yang lalu, wajah kedua orang tuanya terlihat begitu bangga. Kemudian Ai teringat bertabrakan dengan Choushi saat berjalan keluar hall, tak disangka di tengah kerumunan orang-orang yang bingung mencari keluarganya, Ai malah bertemu dengan Choushi, betapa tidak tahunya ia bahwa saat itu Choushi sudah selalu menaruh perhatian padanya. Ai tersenyum sedih.

Kemudian Ai mengingat saat ia berkunjung ke Tokyo, kota impiannya, setahun sebelumnya, saat ia membayangkan suatu hari akan bisa kembali ke sana untuk menuntut ilmu & membuat papa & mama bangga, namun sepertinya saat ini impian itu akan hancur selamanya. Ai juga mengingat saat ia membelikan sebuah souvenir, yang ia sendiri tak mengerti kenapa hiasan itu begitu istimewa untuknya sendiri. Ternyata souvenir itu sudah disiapkan untuk diberikan ke orang yang paling berarti dalam hidup Ai, tanpa kesadaran saat belum bertemu dengan Choushi.

Pikirannya kemudian melayang ke ingatannya saat bermain mesin arcade Dance Revo di game center bersama Kumiko, Ai ingat betapa orang-orang yang menonton mereka bermain terlihat kagum. Lalu secara reflek pikirannya beralih ke ingatannya saat pertama kali mencoba bermain itu lagi bersama Choushi, Ai ingat betapa ia & Choushi panik saat memainkan lagu yang tak ia kenal dengan langkah-langkah yang sulit. Walau dalam hatinya ia merasa geli mengingatnya, tapi tangisnya makin menjadi.

Ingatannya akan kakak laki-lakinya tertuju pada saat ia bermain game tembak-menembak & peperangan bersama Yoshi. Sungguh menggelikan jika Ai mengingat saat Yoshi justru membunuh sandera yang harus dilindungi, & saat Yoshi terpelanting dalam mobil yang ia kendarai dalam permainan peperangan itu. Belum lagi Kumiko saat terjebak dalam mobil yang sengaja ditabrakkan oleh Ai menuju sebuah Tank. Ai dapat mengingat dirinya sendiri, Yoshi, & Kumiko tertawa terbahak-bahak menertawakan kekonyolan mereka. Tapi kemudian Ai juga mengingat setiap saat dirinya bermain tembak-menembak dengan Choushi, Ai ingat bahwa ia memberitahu langkah-langkah memasang bom. Belum lagi saat ia & Choushi sama-sama menertawakan musuh yang begitu dendam terhadap Ai. Dan juga saat Ai & Choushi tak sengaja saling menembak, & sama-sama tertawa terbahak-bahak. Sungguh semua itu kenangan yang tak terlupakan bagi Ai.

“Choushi-kun…”, isak Ai makin menjadi-jadi saat memeluk Shiroi usagi dalam genggamannya. Matanya terpejam. Sungguh pikirannya tak dapat pergi dari Choushi, mengingat bahwa tak mungkin lagi ia bisa bertemu dengannya, Ai begitu sedih yang menyesak, dadanya begitu terasa menyakitkan.

“Ai-chan……”, tiba-tiba Ai mendengar sayup-sayup suara Choushi memanggilnya. Ai menoleh mencari-cari sumber suara, tak ada orang satupun di sekitar situ.

“Choushi-kun… is that you…?”, kata Ai tak yakin apakah ia benar mendengar suara Choushi. Kemudian entah darimana datangnya, Ai tiba-tiba merasakan tengkuknya diliputi kehangatan. Rasa hangat & nyaman itu menjalar menuju seluruh lengannya, sampai akhirnya menyelimuti seluruh tubuh Ai yang duduk terpuruk. Ai meneteskan air mata, & tersenyum.

“It is you…”, kata Ai memejamkan matanya. (“Jangan sedih, Ai-chan… Kita akan selalu bersama…”), terdengar suara Choushi berbisik dalam batin Ai. Pipinya yang terluka tiba-tiba terasa dingin, seperti ada sesuatu yang mengecupnya perlahan. (“Choushi-kun… Aitakatta…”), Ai berkata dalam hati sambil mengecup kepala Shiroi usagi dalam genggamannya.

Lalu ia menengadah menatap langit malam, Ai masih dapat melihat 2 buah bintang yang bersinar paling terang seperti saat ia lihat dengan Kumiko di taman tadi.

“Kita akan bertemu di sana… ya kan, Choushi-kun…?”, Ai bertanya sendiri sambil menatap kedua bintang itu.

Sesaat kemudian, bumi bergetar hebat, seperti gempa berkekuatan 10 skala richter mengguncang bumi. Ai menatap ke barat, terlihat meteor raksasa sudah menghantam bumi. Atmosfir bumi malam itu langsung berubah merah seperti langit senja. Terlihat di kejauhan awan ledakan yang sangat dahsyat melesat tinggi di angkasa. Seketika itu Ai dapat merasakan hembusan angin yang sangat kencang mendorongnya mundur sejauh 2 meter & terhempas ke tanah. Ai berusaha bangkit untuk duduk. Kemudian gemuruh & goncangan bumi terasa semakin keras, terlihat di kejauhan datang ombak permukaan bumi yang hancur setinggi gunung mulai menyapu apapun yang ada di hadapannya. Terlihat gedung-gedung besar tersapu dengan begitu mudahnya. Ai mengalihkan pandangannya ke arah dua bintang yang bersinar terang di langit jauh, lalu kembali memeluk erat Shiroi usagi.

(“Aishiteru, Choushi-kun…”), Ai berkata dalam hati. Akhirnya gelombang kehancuran setinggi gedung bertingkat 300 lantai yang maha dahsyat itu menghampiri Ai, terlihat puing2 tembok, tanah, besi yg bercampur aduk hancur berantakan bergulung di gelombang itu, & menyapu hancur apapun yang dilewatinya. Hanya perlu waktu kurang dari 2 menit sampai gelombang kehancuran itu memusnahkan segalanya yang ada di permukaan bumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Personality

Click to view my Personality Profile page

How Geek am I..??

Created by OnePlusYou

my True friends’s test..

March 2010
M T W T F S S
« Oct   May »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: