Fukkatsu no Yume (part.3)

Waktu New York sudah menunjukkan jam 17.46, papa yang sedang duduk di kursi lobi hotel,melirik jam tangannya. Sang papa sudah rapi memakai jas hitam dengan dasi berwarna coklat. (“Where’s my girls..”), katanya dalam hati. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka, sang mama melangkah keluar mengenakan kimono sutra warna putih-coklat muda dengan corak daun maple musim gugur benang emas, rambutnya terlihat disanggul rapi sederhana dengan jepit kecil berbentuk anggrek menghias bagian belakang sanggulnya. Di belakangnya melangkah berdampingan Ai & Kumiko. Kumiko memakai simple dress bahan satin selutut model kemben warna hitam yang dipadu dengan bolero corak glitter,rambutnya disanggul ke atas dengan apik. Di sampingnya Ai mengenakan gaun panjang satin warna maroon dengan sarung tangan panjang yang senada,di bagian dada tersemat bros kelinci putih yang berkilau,rambutnya dibiarkan terurai setelah tadi dirapikan dengan roll besar hingga sekarang menjadi ombak ikal yang cantik. Mereka bertiga dimake-up minimalis. Papa terpana melihat mereka bertiga datang, tapi tak hanya papa, semua orang yang ada di lobi itu ikut terpana melihat mereka.

“Whaaa… Kirei na…!!!!”, seru sang papa menyambut mereka bertiga dengan tangan terbentang. Mereka bertiga tersenyum, Ai menundukkan kepalanya sedikit malu.

“Huss.. jangan kenceng-kenceng ngomongnya pa..”, kata mama menggerak-gerakkan tangannya di depan mukanya.

“Gak apa-apa dong.. Papa kan bangga liat kalian.. he? Ai-chan, dou shita no?”, tanya papa yang melihat Ai sedikit kikuk.

“mm..? daijoubu..”, jawab Ai menggeleng-gelengkan kepalanya gugup. Maklum saja, Ai belum pernah memakai gaun sepanjang itu. Ai yang terbiasa tampil lincah & sedikit tomboy, sekarang harus tampil anggun lengkap dengan gaun & tatanan rambut. Melihat itu Kumiko kemudian memegang kedua bahu Ai.

“Ai-chan.. Lu klo kikuk gitu jadi gak cantik.. Sia-sia dong gaun itu gw yang pilihin waktu beli,klo jadinya lu gak enjoy sm gaun itu.. now listen, stop looking down.. you look very very pretty.. & you know what? you always are! now look straight.. & smile.. & make everyone tonight falls in love with you.. okey..?”, kata Kumiko sungguh-sungguh sambil tersenyum. Ai pun tersenyum, ada perasaan lega di dalam dadanya.

“Well.. Shall we..?”, ajak papa. Kemudian mereka berempat keluar hotel & masuk ke mobil sedan yang sudah disiapkan Mr. Andrews untuk menjemput mereka.

Tak perlu waktu lama untuk sampai di tempat acara. Ada karpet merah terbentang di jalan masuknya, terdapat beberapa wartawan yang siap memotret para tamu yang datang. Ai sekeluarga sempat diminta untuk difoto dahulu sebelum masuk. Terlihat logo salah satu perusahaan elektronik terbesar di dunia menjadi salah satu penyelenggara acara tersebut. Semua orang di acara itu memakai pakaian & dandanan yang mewah. Sang mama cukup menarik perhatian orang-orang karena memakai pakaian kebangsaan yang ia banggakan, yaitu kimono pemberian neneknya yang sekarang ia kenakan. Namun tak sedikit orang juga yang ikut menolehkan kepala mereka untuk memperhatikan Ai lebih jelas.

Taman yang di dalamnya banyak terdapat tanaman yang dipangkas menjadi macam-macam bentuk itu sudah disulap dengan begitu banyak lampu hias, air mancur mini, meja-meja penyaji makanan & minuman yang diatur apik, lengkap dengan rangkaian-rangkaian bunga & hiasan es balok yang sudah dipahat menjadi bentuk macam-macam logo perusahaan besar yang menjadi sponsor & penyelenggara acara. Tak ketinggalan gazebo-gazebo putih yang salah satunya digunakan untuk sekelompok pemain alat musik gesek & tiup memainkan musik lembut untuk menghibur para tamu undangan. Ada juga sebuah panggung yang lengkap dengan meja & podium di atasnya.

“Nah, kalian lihat yang di sana itu? Yang memakai tuxedo hitam berdiri di samping deretan meja podium, sedang berbicara dengan wanita bergaun biru, that’s Mr. Andrews.”, kata sang papa sambil menunjuk ke arah Mr. Andrews yang berperawakan gagah.

“Oh.. kalau begitu ayo kita temui beliau, kita harus berterima kasih”, ajak mama. Lalu mereka melangkah ke arah samping podium. Belum sampai ke depan Mr. Andrews, wanita di sampingnya sudah melihat mereka datang, wajahnya terkejut senang sampai mulutnya membuka lebar.

“Tuan Shirokawa..!  Sayang, itu tuan Shirokawa & keluarganya..!”, kata wanita itu sambil menyodok tuan Andrews di sampingnya, ternyata wanita itu adalah istrinya. Tuan Andrews juga terlihat sangat senang melihat Ai sekeluarga.

“Aoki..!!!! How are you, my brother…?!?”, sambut tuan Andrews langsung memeluk erat papa, mereka pun saling menepuk punggung.

“Never been so great to finally here, & seeing you still rocking the world, as always, Michael..!!”, kata papa bersemangat, mereka berdua pun tertawa lepas.

“Ahahaha.. Sudah berapa tahun lamanya sejak kita terakhir bertemu, Aoki..?”, tanya tuan Andrews.

“9 atau 10 tahun mungkin..? Hmm.. I lost count.. Hahahaha..”, papa tertawa keras.

“Even so, finally, kita ketemu lagi..!! Terima kasih banyak sudah datang kemari..”, kata tuan Andrews kepada papa sekeluarga.

“Tuan Andrews.. Kamilah yang harus berterima kasih atas segala akomodasi yang sudah Anda berikan.. Kami merasa sangat dimanjakan selama di sini”, kata mama kepada tuan Andrews.

“Oh.. No no no.. It’s my pleasure, Mrs. Shirokawa. Selama Anda sekeluarga senang, apalagi saya..”, jawab tuan Andrews sopan.

“Dan siapa ini dua wanita cantik di belakang Anda, tuan Shirokawa..? are these your princesses..?”, tanya nyonya Andrews yang melihat Ai & Kumiko.

“Ah yes.. Yang ini adalah Kumiko, anak kedua saya, sekarang tinggal di Tokyo bersama keluarganya”, kata papa seraya mengenalkan Kumiko. Dengan sopan Kumiko mengulurkan tangan & berjabatan dengan tuan & nyonya Andrews.

“Oh.. ini yang kau bilang menikah dengan klan Morikino?”, tanya tuan Andrews kepada papa. Papa mengiyakan pertanyaan itu.

“Benar om, memangnya kenapa?”, tanya Kumiko.

“Saya kenal beberapa orang dari klan Morikino, great people with wisdoms.”, jawab tuan Andrews tersenyum.

“Dan yang ini adalah Ai, anak bungsu saya, hobinya olahraga & meninju orang, hahaha..”, kata papa mengenalkan Ai kepada pasangan Andrews. Ai mendengar itu langsung tertunduk malu setelah berjabatan tangan dengan tuan & nyonya Andrews.

“Hahaha.. That can’t be true, Aoki.. She looks very very elegant.. Even so,I did feel her strong hand-shake a little just now, hahaha..”, kata tuan Andrews yang membuat Ai menjadi tersipu.

“oh..? Thousand apologies, sir..”, kata Ai malu.

“oh.. no no.. tak perlu minta maaf,nak..  justru saya senang, soft but strong, I like that! berarti kamu sukar untuk didapatkan oleh sembarang orang”, kata tuan Andrews. Ai tertawa kecil mendengarnya.

“Sayang anakku Peter sedang bekerja di Chicago, kalau saja dia di sini, pasti kamu akan langsung tante kenalkan..”, kata nyonya Andrews kepada Ai. (“weh? Fyuuhh… Untung gak ada…”), batin Ai dalam hati.

“Nah.. Sekarang silahkan kalian nikmati acaranya.. acara penyerahan awardnya masih jam 20.00 nanti, jadi sambil menunggu kalian bisa nikmati pesta ini semau kalian, nikmati makanannya, musiknya, sedikit slow-dance mungkin? (tuan Andrews mengedipkan matanya ke papa) atau menikmati pemandangan gedung Chrysler yang menakjubkan di malam hari, terserah kalian.. Enjoy the evening…”, kata tuan Andrews kepada papa sekeluarga.

——————

Sepanjang malam Ai bersama Kumiko mengelilingi taman itu, melihat-lihat macam bentuk tanaman pangkas, dari bentuk seperti gedung Chrysler, patung Liberty, menara Eiffel, sampai teko di kartun Beauty & the Beast, hingga susunan huruf yang membentuk kata Schimdt. Ternyata taman itu memang sangat luas, terdapat 3 anak-taman yang luasnya masing-masing seperti lapangan volley di bagian bawahnya, yang terlihat seperti undakan lebar ke bawah, & di bagian ujung bawahnya adalah susunan kolam ikan & air mancur yang luas & besar. Mama & papa mengekor nyonya Andrews berkeliling di antara tamu untuk berkenalan & bercengkrama. Langit malam itu dipenuhi bintang-bintang di segala penjuru. Sesekali ada pria muda mencoba untuk berkenalan dengan Ai, tapi Ai selalu menanggapi dengan “No thank you” sambil tersenyum lalu ngeluyur pergi. Saat di dekat air mancur mini samping gazebo,kumiko akhirnya berkomentar.

“Knapa sama sekali gak mau kenalan sama cowo-cowo tadi, Ai-chan? Mereka ganteng-ganteng lho.. yakin lu gak nyesel?”, goda Kumiko.

“Gak tertarik aja, oneechan.. Belum tentu cocok juga”, jawab Ai.

“Tapi kamu kan blum nyoba? Kali aja gitu ada yang cocok, kan lumayan.. bule, hehe”

“Haha.. Bule-potan maksud neechan? Hahaha… Ngga ah, susah deeh kalo mau cari yang cocok sama aku seperti…”, Ai tiba-tiba menghentikan omongannya.

“Seperti apa..?”, tanya Kumiko ingin tahu.

“Err.. Oh.. Wah.. Banyak bintang!”, kata Ai menengadah ke atas & menunjuk langit.

“Hahaha.. ooh.. gw ngerti.. gak ada yang kayak Choushi-kun ya..? hahaha, pake ngalihin ke bintang-bintang segala.. Kamu malu ya nyebutnya?”, kata Kumiko.

“Eh tapi beneran lho, bintangnya banyak banget itu!”, seru Ai berusaha tampak sewajar mungkin, padahal kalau saat itu wajahnya disorot lampu terang, akan terlihat jelas wajahnya yang merona merah.

“Wah… iya… wuihh… beneran banyak!”, kata Kumiko yang baru menyadari banyaknya bintang malam itu. Ai tersenyum geli sendiri.

“Kamu… bener-bener sayang dia ya, Ai-chan?”, Tanya Kumiko pelan sambil menatap Ai lekat-lekat. Ai tidak menjawab, tapi ia tersenyum menatap langit.

“………… iya “, jawab Ai pelan setelah terdiam cukup lama. Ai melihat ada 2 bintang yang bersinar paling terang di langit, (“seperti 2 bintang yang ada di sana, ingin sekali rasanya bisa abadi bersama di atas sana, bersinar bersama..”), batin Ai dalam hati, ia pun tersenyum. Seketika itu, tiba-tiba terlintas sebuah bintang jatuh yang melesat sangat cepat, & kemudian menghilang. Ai & Kumiko sama-sama tersentak kaget.

“Did you see that..!?!”, teriak Ai & Kumiko bersamaan.

“iya..”, jawab mereka berdua juga bersamaan. Mereka pun tertawa terbahak-bahak.

“Wahahaha.. a real shooting star.. baru liat gw..cepet banget ya?!”, kata Kumiko masih tak percaya.

“Iya.. shooting star emang gitu, soalnya jauh.. kalo keliatannya jatuhnya pelan, itu justru bahaya, karena deket, kalo itu sih ngeri”, sahut Ai juga masih terpana melihat langit.

“Ada lagi gak ya.. Seumur-umur baru liat gw..”, kata Kumiko lagi. Mereka kembali menatap langit, berharap akan ada lagi bintang jatuh yang melesat lewat. Benar saja, semenit kemudian terlihat ada 2 bintang jatuh yang melesat cepat di angkasa.

“Huwaaa… ada lagi!!”, pekik Ai sambil melompat, Kumiko hanya mengangguk-angguk bersemangat. Kedua bintang tersebut pun kembali lenyap dari pandangan.

“Kayaknya lagi hujan meteor ya…?”, tanya Kumiko tanpa mengalihkan pandangannya dari langit. Mendengar pertanyaan Kumiko tersebut, Ai tiba-tiba teringat dengan berita yang ia lihat sekilas sewaktu berolahraga di gym pagi itu.

“Eh…  pagi ini aku liat memang katanya begitu lho.. di berita tadi,disebutin kalo ada stasiun luar angkasa ada yang hancur gara-gara hujan meteor”, terang Ai.

“Eee…? Hontou desu ka? Sampe hancur? Wah kalo itu sih ngeri.. trus dibilang ngga kalo akan terjadi hujan meteor lagi?”, tanya Kumiko.

“Ngga dibilang sih… Hmm.. tapi ngga pasti juga, karena kata reporternya, ada desas-desus akan datang meteor raksasa gitu..”, jawab Ai.

“Hah..?? Kok malah makin ngeri….”, kata Kumiko perlahan kembali menatap langit malam. Saat mereka berdua masih menatap langit, 5 menit kemudian terdengar suara pesawat seperti akan melintas di kejauhan. Mata mereka mengikuti asal suara, ternyata dari arah utara, terlihat ada sebuah pesawat di kejauhan yang tampak sangat kecil seperti sebutir beras dengan lampu pesawat yang mengedip akan melintas di atas mereka.

“Kalo kamu udah sering liat shooting star?”, tanya Kumiko mengalihkan pandangannya.

“Mmm.. ngga juga, jarang…”, jawab Ai yang masih melihat ke arah pesawat. Entah kenapa, Ai merasakan firasat tidak enak saat melihat lampu pesawat yang mengedip itu. (“Kok pesawat itu gak lewat-lewat sih..?”), batin Ai dalam hati. Perlahan namun pasti, lama-lama Ai bisa melihat memang ada sesuatu yang salah pada pesawat itu.

“Oneechan! Pesawat itu.. kok kliatannya… kayak kebakar yah?”, tanya Ai sedikit panik.

“He? Kebakar? Mana?”, jawab Kumiko bingung.

“Pesawat itu.. kok kayak kebakar.. Tuh kan, kok suaranya makin gede?? Dan… Kok… Seperti mendekat… ke arah sini…???”, Tanya Ai makin panik sambil menunjuk ke arah pesawat yang di maksud. Benar saja, tak hanya Ai & Kumiko yang menyadari ini, beberapa tamu undangan lain juga ada yang memekik pelan & menunjuk-nunjuk ke arah pesawat. Sekarang pesawat itu sudah tampak seukuran anggur dari mata mereka. Terlihat jelas di bagian belakang dekat ekor pesawat ada api & asap yang menyembul keluar. Dan yang makin membuat Ai & Kumiko khawatir, pesawat itu menukik ke arah mereka berdiri.

“Ya ampun.. aduh.. pesawat itu bakal jatuh.. Dan sepertinya.. akan jatuh ke sini”, kata Kumiko panik, lalu Ai menarik kakaknya pergi mencari papa & mama mereka. Tamu lainnya juga sudah mulai panik. Tapi tak satupun dari mereka yang yakin harus lari kemana, karena tidak tahu pasti kemana arah pesawat itu akan jatuh.

“Papa sama mama kemana sih?!”, teriak Ai sambil mencari-cari di antara orang-orang yang baru menyadari akan ada pesawat yang jatuh.

“Ai-chan! Lihat!”, seru Kumiko menunjuk pesawat yang sudah semakin dekat & terlihat sedikit miring ke kiri, tapi masih tetap menukik ke arah mereka.

“Bugger!! Kita harus cepet menyingkir dari sini…”, seru Ai sambil mencari-cari jalan keluar terdekat.

“Kumiko! Ai! Cepat kesini!”, sang papa tiba-tiba muncul menepuk pundak Ai dari belakang & mengajak untuk mengikutinya.

Kemudian mereka berlari ke tangga kecil di balik salah satu gazebo & menuju taman di bagian bawah. Mama terlihat sudah berdiri cemas di dekat gerbang samping anak taman ke-2. Suara pesawat semakin keras, Ai menoleh ke belakang, pesawat itu sudah sangat dekat dari tempat mereka berlari, ekor pesawatnya yang terbakar terlihat mengerikan, posisi pesawat sudah semakin miring. Melihat itu, Ai yakin bahwa yang akan mengenai tanah terlebih dahulu adalah sayap kanannya. Suaranya begitu memekakan telinga hingga suara teriakan pun takkan terdengar. Papa sampai di gerbang terlebih dahulu & berlari keluar bersama mama. Mereka menoleh ke arah Ai & Kumiko yang masih sepuluh langkah lagi tiba di gerbang. Tiba-tiba terdengar suara mengerikan dari arah belakang mereka, mereka semua menoleh sambil terus berlari, sayap kanan pesawat baru saja menabrak pilar-pilar tembok besar samping kolam ikan di taman utama bagian atas. Bongkahan tembok hancur berhamburan. Ai sempat melihat ada beberapa orang yang sedang berlari di belakangnya ikut tertabrak hancur sayap kanan pesawat itu, sebelum ia sendiri menarik Kumiko & keduanya jatuh tersungkur di tanah menundukkan kepalanya. Ai dapat melihat hidung & badan pesawat itu lewat 5 meter di atas dirinya. Tanah bergetar hebat, sayap kanan pesawat itu masih menyapu bagian kanan taman, hanya semeter dari tempat Ai & Kumiko tersungkur. Nyaris saja mereka berdua ikut terlindas bagian ekor pesawat yang terbakar hebat lewat di atas mereka & kemudian mendarat hancur sepenuhnya di taman bagian bawah, & menghancurkan kolam air mancur & apapun yang masih ada di hadapan pesawat yang masih menggelincir itu. Sayap kanan akhirnya patah setelah hancur tertabrak tiang pagar taman bagian luar. Akhirnya pesawat berhenti meluncur setelah bagian hidung pesawat ringsek masuk ke dalam lantai dasar gedung sebelah barat dari taman. Suara pesawat yang tadi memekakan telinga sekarang terdengar mulai melemah. Ai & Kumiko bangkit perlahan, abu hitam tampak berserakan di tubuh mereka & sekitar mereka. Mereka baru menyadari betapa dekatnya mereka dengan maut setelah melihat jalur hancurnya tanah yang melintas di samping tempat mereka tadi tersungkur. Puing-puing pesawat yang terbakar, tembok-tembok yang hancur, tanah yang terbongkar, tanaman hancur berantakan, terlihat berserakan sejauh mata memandang. Orang-orang yang selamat terlihat mulai bangkit & mencari kerabatnya yang masih selamat. Kumiko langsung memeluk Ai erat, air matanya mengalir di pipinya yang sekarang terlihat hitam. Ai dapat merasakan sedikit rasa perih di pipinya kiri & bahu kanannya, ternyata ia terluka gores panjang & berdarah.

“Kamu terluka, Ai-chan!”, seru Kumiko memegang wajah Ai.

“Gak apa-apa… Akh! Cuma luka kecil,yang penting kita selamat, oneechan…”, kata Ai tersenyum lalu memeluk kakaknya lagi. Gaun Kumiko terlihat robek di bagian lengan karena ditarik keras oleh Ai tadi,gaun panjang Ai juga robek pada bagian bawahnya, sehingga tulang keringnya kini terlihat.

“Kumiko-chan!! Ai-chan!! Dimana kalian??”, terdengar suara papa yang berteriak-teriak di kejauhan. Mendengar itu, Ai & Kumiko berjalan ke arah datangnya suara. Karena hampir terjatuh tersandung gaunnya sendiri, Ai kemudian menarik bagian yang robek hingga putus, jadi kini terlihat bagian depan gaunnya sudah lenyap di bawah lutut menyamping. Ternyata papa & mama sudah berada di luar taman yang aman dari jalur pesawat jatuh. Mama langsung berlari mendatangi kedua putrinya sambil berlinang air mata.

“Ya Tuhan.. Mama mengira sudah kehilangan kalian selamanya..”, seru mama terisak sambil memeluk Ai & Kumiko. Papa juga ikut memeluk dari belakang.

“Thank God you’re both safe. Papa tadi lihat pesawat itu melindas tanah, papa berpikir, ya Tuhan, kedua putriku di situ…”, kata papa terbata-bata menahan tangis.

“Ai menarikku, kita jatuh tepat di posisi yang aman”, kata Kumiko menepuk kepala Ai.

“We’re lucky,ma,pa..”, jawab Ai tersenyum & memeluk mamanya lagi.

“Pipimu terluka, Ai-chan.. Ayo kita cari bantuan. Bagaimana denganmu Kumiko?”, Tanya mama khawatir.

“Daijoubu… Papa & mama sendiri?”, Kumiko bertanya balik.

“Kami tidak apa-apa. Kami tadi langsung diseret Michael & ajudannya ke sini. Terima kasih banyak,Michael!”, seru papa sambil berbalik ke belakangnya, namun ternyata tuan Andrews tidak ada di situ. Kini terlihat orang hilir mudik mencari-cari kerabat mereka di antara kerumunan di pinggir jalan besar luar taman. Papa mencari-cari Michael, lalu tiba-tiba menangkap salah satu petugas security taman yang melintas dihadapan papa.

“Where’s Mr. Andrews?”, tanya papa.

“He went back inside,sir… Looking for his wife”, jawab petugas itu lalu melanjutkan larinya ke dalam taman.

“Kalian tunggu di sini dulu ya, papa ingin lihat keadaan Michael”, kata papa lalu berlari masuk kembali ke taman. Mama meneriakkan papa untuk hati-hati, papa hanya mengangguk sambil terus berlari.

“Apa yang sebenarnya terjadi, ya Tuhan.. darimana datangnya pesawat itu..”, kata mama sambil terus menggenggam tangannya sendiri cemas.

“Entahlah ma.. tadi kita juga kaget, kita sudah lihat dari jauh, tapi ngga ngira kalo pesawat itu akan jatuh beneran.. di sini lagi..”, jawab Kumiko memegangi kedua bahu mamanya. Ai yang berdiri memperhatikan orang-orang di sekitar yang masih diliputi rasa panik, merenung dalam hatinya, (“ya Tuhan.. aku hampir mati tadi… apa jadinya kalo pesawat tadi tepat melindas kami? Aku… aku…”), lalu ia menatap langit, (“aku takkan bisa pulang ke Jakarta… Aku… tak akan bisa melihat dia lagi… ya Tuhan, terima kasih sudah memberiku keselamatan..”), air mata mengalir ke pipinya yang berdarah. Lalu ia meraba-raba kantong kecil dalam gaunnya, & mengambil keluar HPnya, melihat kelinci putih yang tergantung, lalu ia peluk di dadanya erat-erat. (“Syukurlah kamu gak apa-apa, shiroi usagi… Choushi-kun, aku gak apa-apa…”), batinnya dalam hati sambil memejamkan matanya. Di kejauhan mulai terdengar suara sirine ambulan dan mobil pemadam kebakaran yang berdatangan.

“Istri Michael… ternyata… tewas…”, kata papa sedih sambil menghampiri mereka kembali.

“Apa..?? Kok bisa…?? Bukannya bareng sama mama & papa tadi…?”, tanya Kumiko heran.

“Engga… tadi nyonya Andrews sedang di toilet waktu kejadian. & ternyata, beliau ditemukan tewas tertindih puing-puing tembok saat menyelamatkan diri.”, kata papa sedih, matanya berkaca-kaca menatap sang mama.

“Syukurlah kamu tidak apa-apa, Reiko…”, kata papa lalu memeluk mama erat. Sudah lama sekali Ai & Kumiko tidak melihat keduanya berpelukan erat seperti itu, mereka pun ikut terharu melihatnya. Kemudian Kumiko mengeluarkan HPnya & berjalan menjauh, Ai melihat kakaknya berbicara di telepon, (“pasti menelepon Shinobu”), pikir Ai sambil kemudian juga berjalan ke pinggir jalan & bersandar di pagarnya. Terlihat mobil-mobil yang sedang melintas ikut berhenti & menonton peristiwa itu, bahkan ada beberapa di antaranya turun & ikut membantu orang-orang yang terluka. Ambulans, mobil pemadam kebakaran, mobil polisi, mobil pribadi, tampak tumpah ruah dengan orang-orang di jalan. Area sekitar taman itu berubah menjadi seperti medan perang yang terang benderang dalam kota New York. Ada seorang petugas medis yang lewat melihat Ai kemudian mendatanginya.

“Anda tidak apa-apa? butuh perawatan dengan luka Anda?”, tanya pria muda berseragam medis itu menunjuk wajah Ai.

“Oh.. ini? It’s only a scratch.. Masih banyak yang terluka parah di dalam sana, Anda segera ke sana saja, saya gak apa-apa kok”, kata Ai menunjuk ke arah taman. Pria itu mengangguk & segera berlari masuk ke area taman. Ai lalu membuka kedua sarung tangan panjang yang masih ia pakai.

“Euch… Dammit..”, pekik Ai pelan saat menyeka luka di pipi kirinya dengan tangannya, tampak darah segar menempel di punggung telapak tangan kirinya, lalu ia menyeka darah itu dengan sarung tangannya. Ia pun menengok ke pundak kanannya yang tersayat cukup panjang. (“Mungkin seharusnya gw tadi pake jaket aja, jadi gak gampang tergores begini…”), batin Ai sedikit kesal melihat lukanya. (“yah… At least, you have no scratch at all, shiroi usagi! ii da ne?!”), kata Ai dalam hati sambil menatap kelinci putih dalam genggamannya. (“Aku harus kasih tau Choushi-kun… dia gak akan pernah nyangka apa yang baru aja gw alami”), batin Ai dalam hati lalu berjalan mencari kakaknya. Saat berjalan, di depannya melintas seorang petugas medis lain mendorong sebuah ranjang ambulan yang diatasnya terdapat kantong mayat yang sudah terisi, terlihat di belakangnya, tuan Andrews sedang menangis terisak dibopong oleh seorang laki-laki besar. Tak tega menyapanya, jadi Ai membiarkan mereka terus berjalan menuju salah satu ambulans. Ai terus menatap ambulan yang membawa nyonya & tuan Andrews itu pergi menjauh. Ai bisa ikut merasakan kesedihan tuan Andrews, kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya, pastilah sangat menyakitkan, Ai menjadi gemetar membayangkan kalau itu terjadi pada dirinya.

“Sebaiknya kita segera kembali ke hotel saja..”, Ai menoleh, ternyata papa di belakang Ai juga melihat kepergian ambulans nyonya & tuan Andrews.

“Iya.. tapi mana oneechan? Aku ingin pinjam HPnya…”, tanya Kumiko.

“Kukira dia bersamamu, Ai-chan?”, kata mama.

“Ngga ma, tadi terakhir aku lihat sedang menelepon Shinobu, di sekitar situ, sebentar ya ma, aku cari dulu… Oh ya ma, aku titip sarung tangan ini. Papa & mama tunggu saja di lobi gedung yang itu, nanti aku & neechan akan menyusul ke sana”, kata Ai menunjuk gedung sebelah timur taman yang memang ramai dijadikan tempat orang duduk, lalu Ai berjalan ke tempat ia terakhir melihat kakaknya. Setelah 2-3 menit berputar-putar dalam keramaian di tengah jalan besar itu, Ai menemukan kakaknya baru saja menutup telponnya.

“Oneechan… aku boleh pinjam HPnya?”, tanya Ai.

“Boleh.. nih.. papa & mama mana?”, tanya Kumiko setelah memberikan HPnya ke Ai.

“Ada di lobi gedung yang itu, papa ngajak kita segera pulang ke hotel.”, jawab Ai sambil menunjuk gedung yang dimaksud.

“Oke… tapi sebentar dulu, gw mau fotoin tempat ini, Shinobu harus lihat kejadian ini”, kata Kumiko seraya mengeluarkan kamera kecil dari saku boleronya dan berjalan mendekati puing pesawat yang sedang disemprot oleh pemadam kebakaran.

“Hati-hati!”, teriak Ai, Kumiko hanya melambai-lambaikan tangannya tanda tak perlu khawatir. Ai pun menyingkir saat ada kerumunan petugas medis yang berlari melewatinya. Baru saja Ai membuka HP kakaknya, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras di belakang Ai. Ai menunduk kaget & segera menoleh, sesuatu telah menabrak jalan aspal hingga terbongkar sampai ke dalam tanah, jaraknya kira-kira 10 meter dari tempat Ai berdiri. (“ada apa lagi ini..?”), tanya Ai bingung dalam hati sambil mendekati tanah terbongkar itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Personality

Click to view my Personality Profile page

How Geek am I..??

Created by OnePlusYou

my True friends’s test..

March 2010
M T W T F S S
« Oct   May »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: