Fukkatsu no Yume (part.4)

“Jangan dekati itu, miss!”, teriak petugas pemadam kebakaran menghalangi Ai. Lalu terdengar teriakan histeris seorang wanita, Ai menoleh, wanita itu sedang menunjuk ke atas, Ai & semua orang juga ikut melihat ke langit. Terlihat ada 3 buah objek terbakar melesat cepat ke arah bumi, masing-masing sebesar bola basket, dengan ekor api yang menyala-nyala. Belum sempat Ai bereaksi, salah satu bola api itu sudah menghantam salah satu mobil yang sedang diparkir cukup jauh dari tempat Ai berdiri di pinggir jalan besar itu. Mobil itu langsung meledak hancur. Dua bola api yang lain melesat menabrak lantai 5 & 7 gedung tempat pesawat tadi bersarang, seluruh kaca gedung di sekitarnya hancur menghujani tanah.

“What the..?!?!”, pekik Ai terheran-heran melihat kehancuran itu. Ai lalu menutup HP kakaknya & berjalan cepat melewati orang-orang yang dilanda kepanikan. Belum sampai 5 langkah, terdengar teriakan-teriakan histeris dari orang-orang sekitar, Ai menoleh, ternyata semakin banyak bola api yang melesat cepat ke arah bumi. Tanpa pikir panjang, Ai langsung berlari mendatangi papa & mamanya. Orang-orang di sekitarnya juga mulai berlarian menyelamatkan diri. Di jalan Ai bertemu dengan Kumiko yang juga berlari ke arah gedung tempat papa & mama menunggu. Sesekali Ai menoleh ke belakang memastikan tidak ada bola api yang meluncur ke arah mereka. Terdengar beberapa dentuman & ledakan di belakang mereka, baik yang di kejauhan & yang dekat. Saat masuk ke lobi gedung itu, keadaan sudah penuh sesak. Tapi untunglah papa & mama berdiri di dekat pintu keluar, maka itu mereka mudah ditemukan.

“Ada apa lagi itu?!?”, teriak papa keheranan melihat kerusuhan di luar gedung.

“Hujan meteor!!”, seru Ai & Kumiko bersamaan. Papa terbelalak mendengarnya, lalu berjinjit melihat keadaan di luar. Benar saja, terlihat beberapa bola api terus melesat menabrak bumi bersahut-sahutan tak tentu arah. Ledakan & kehancuran terlihat dimana-mana.

“Ini HPmu, ngga jadi, nanti aja kalo selamat”, kata Ai menyerahkan HP kakaknya kembali.

“Kita ngga bisa tinggal diam di sini! Kita harus menyingkir! Saat tempat ini terlalu penuh, kita nanti malah akan terjebak & jadi sasaran empuk di dalam. Ayo! Segera lari keluar!”, seru papa sambil mendorong-dorong anak & istrinya keluar gedung, memecah gelombang orang yang justru berlarian masuk.

“Kok malah keluar sih pa?!”, teriak Kumiko sambil terus berlari di samping papa setelah keluar gedung. Terdapat banyak sekali orang yang juga berlarian dimana-mana. Ai berkali-kali menengok ke atas depan & belakang, memastikan tak ada meteor manapun yang akan menghantam mereka.

“Kita harus cari tempat aman! & di dalam gedung tadi itu tidak aman!”, kata papa terengah-engah sambil berlari. Ada sebuah meteor seukuran bola basket menabrak mobil yang sedang melaju di tengah jalan meledak sampai terbalik, Ai & keluarga yang berlari di samping jalan itu berteriak & menunduk kaget, lalu bangkit & melanjutkan larinya lagi.

“Kita harus lari kemana, pa?”, Tanya sang mama yang kimononya sudah berantakan.

“Awaaass..!!!”, Kumiko berteriak saat sebuah meteor berukuran sangat besar melesat menabrak menembus gedung tinggi di samping mereka. Tabrakan itu begitu hebat, seluruh tanah bergetar karena meteor itu, & dari tempat meteor itu mendarat di tanah terlihat kawah besar yang sudah dibuat meteor besar itu. Semua jatuh terduduk saat meteor itu menabrak tanah. (“Untuuuuung aja jatuhnya ke arah sana… kalau ke arah sini, kita sudah ikut hancur”), batin Ai melihat kawah besar yang baru saja terbuat itu, lalu ia mendongak ke atas, gedung itu sekarang terlihat berlubang besar di bagian tengahnya.

“Oh no… gedung itu akan runtuh.. Ayo kita menyingkir!! Cepat!!”, teriak Ai menarik-narik mamanya bangkit. Benar saja, seketika itu terdengar gemuruh gedung itu akan hancur runtuh menimpa mereka. Mereka yang sedang melintas di situ, juga ikut berhamburan menjauhi gedung. Saat berlari terdengar gemuruh reruntuhan gedung yang menghujam tanah di belakang mereka. Akhirnya mereka tiba di persimpangan & langsung berbelok masuk gedung di ujungnya menghindari semburan puing-puing gedung yang baru saja hancur. Ternyata mereka baru saja memasuki sebuah restoran fast food yang tampak kosong, hanya berisi beberapa orang yang juga berusaha menyelamatkan diri dari runtuhnya gedung tadi. Sambil masih terengah-engah, Ai menengok berita yang sedang muncul di TV dalam restoran itu, terlihat judul dari berita itu “Plane crash hit by a meteor”.

“Hey.. lihat itu..”, kata Ai kepada semua orang. Semua org ikut menengok.

“Baru saja terjadi sebuah kecelakaan pesawat yang disebabkan oleh tabrakan sebuah meteor di jantung kota New York. Meteor tersebut diperkirakan merupakan gelombang awal dari hujan meteor yang akan terus menghujam Amerika Utara sampai akhirnya… “, belum selesai berita itu disampaikan, tiba-tiba sebuah bola api menghantam jendela kaca & menghancurkan salah seorang wanita yang ikut melihat berita itu di dalam restoran. Kini tubuhnya sudah hancur melesak ke dalam tanah dihantam meteor tadi. Laki-laki yang tadi berdiri di sampingnya, ikut terciprat darah wanita berrambut pirang itu. Mama & laki-laki itu sama-sama berteriak histeris, lalu laki-laki itu dengan beberapa orang lainnya berhamburan keluar restoran. Papa & mama ikut berlari keluar. Ai juga ikut berlari, tapi berhenti di pintu karena ternyata Kumiko pingsan melihat peristiwa berdarah itu. Ai berbalik & berusaha menyadarkan Kumiko yang terkapar di lantai.

“Oneechan..!! Oneechaaan..!!! Okitee..!!!”, teriak Ai panik memukul-mukul wajah Kumiko.

“Oh God.. Please wake up..!!”, Ai memohon sambil terus memukuli wajah Kumiko. Akhirnya, Kumiko mulai siuman, awalnya tampak bingung, tapi kemudian wajahnya kembali menunjukkan kepanikan yang sama seperti tadi.

“Eughh.. Knapa gw tadi?”, tanya Kumiko memegangi kepalanya.

“Neechan tadi pingsan.”, jawab Ai sambil sesekali melihat ke arah luar.

“Hah? Gw pingsan?”, tanya Kumiko perlahan bangkit.

“Iya.. karena itu.. Eh sudah! Jangan lihat! Nanti pingsan lagi, ayo kita keluar dari sini”, ajak Ai keluar restoran sambil mengalihkan pandangan dari lubang menganga di lantai.

“Papa & mama mana?”, tanya kumiko sambil berlari di samping Ai.

“Entahlah… tadi sudah lari keluar duluan. Tapi karena oneechan pingsan, maka aku kembali menyadarkan kakak.”, jawab Ai sambil melemparkan pandangannya ke segala penjuru, berharap dapat menemukan papa & mama.

“Ah gw bodoh! Pake pingsan segala..”, Kumiko kesal sendiri.

“Sebaiknya kita cari arah kembali ke hotel aja, mungkin papa & mama langsung ke sana”, kata Ai. Terlihat ada seorang pria  yang berlari melewati Kumiko dengan kepala yang bercucuran darah.

“Oke.. Kita cari hotel kita. Tapi kemana arahnya?”, tanya Kumiko.

“Wakaranai… yang penting kita sambil cari tempat aman untuk berlindung… Akh!”, jawab Ai yang seketika itu lengan kanannya ditabrak seorang pengendara sepeda.

“Lu gapapa?”, Tanya Kumiko lagi. Ai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak peduli, lalu menganga lebar menunjuk ke belakang Kumiko. Di persimpangan sebelah kiri tempat Ai baru saja lewat, terlihat di kejauhan ada sebuah helicopter yang sedang menukik tajam, kabin helicopter itu sudah terbakar, & akhirnya jatuh menghantam sebuah bis yang terparkir miring tengah jalan. Ai & Kumiko langsung meringkuk berlindung di balik mobil yang sedang terparkir untuk menghindari api & puing-puing yang terlempar berserakan.

“Bener-bener neraka…”, gumam Kumiko sambil merangkul Ai & melihat sekitar apakah sudah cukup aman untuk mereka menyingkir lagi.

“Beruntung banget dah kita pas ke sini, malah pas disaster seperti ini. Where should we go..? kalo ke hotel terlalu jauh, bisa-bisa kita tidak selamat sampe sana”, kata Ai saat mereka mulai melanjutkan lari.

“Hotel juga belum tentu jadi tempat yang aman. Kita harus ke bawah tanah…”, jawab Kumiko sambil melihat berkeliling. Ai tiba-tiba menangkap salah satu orang kulit hitam yang berlari melewati mereka.

“Where’s the nearest subway?”, tanya Ai.

“It’s over there… near the Central park, 4 blocks from here, it’s on the left, you can’t miss it”, jawab pria kulit hitam itu sambil menunjuk ke arah kanan Ai.

“Ok, thanx sir!”, jawab Ai melepaskan pria itu, & mereka berduapun segera berlari ke arah yang ditunjuk..

“But… hey!! The trains are not working anymore now!!”, teriak pria itu di belakang mereka. Sambil terus berlari, Ai sedikit menoleh ke belakang & berteriak balik.

“Yeah… we know!!”, lalu Ai kembali berlari. Pria itu heran menatap mereka, lalu melanjutkan larinya & menghilang di belokan. Jarak 4 blok itu sungguh terasa sangat jauh, Ai & Kumiko mulai terengah-engah, akhirnya mulai terlihat di sebelah kiri mereka Central park yang siang itu mereka datangi. Kini tampak beberapa kobaran api besar di tengah taman yang terlihat menyala di gelapnya taman malam itu, sepertinya Central park juga tak luput menjadi sasaran meteor-meteor untuk mendarat. Ai sempat menghentikan larinya & terpana melihat pemandangan kota New York malam itu. Puncak-puncak gedung tinggi yang berasap & menyembulkan api, jalanan yang terlihat hancur berlubang-lubang, suara teriakan-teriakan orang-orang yang berlarian lalu-lalang, suara-suara ledakan & sirine di kejauhan, langit malam terlihat begitu terang oleh kobaran-kobaran api dimana-mana.

“ya Tuhan… Kiamat kah ini?”, tanya Ai merenung. Kumiko berbalik mendatangi adiknya.

“Ayo, Ai-chan! Dikit lagi kita sampe kok! Ayo…”, ajak Kumiko menarik lengan Ai, mereka segera berlari lagi.

“Nah! Itu di sana!”, seru Kumiko menunjuk sebuah tangga turun ke bawah tanah yang di atasnya terdapat papan besar bertuliskan Central Park West Subway. Terlihat beberapa orang yang berlari panik keluar subway. Ai & Kumiko segera berlari turun. Terdengar dentuman keras dari kejauhan di belakang mereka. Di dalam stasiun subway itu sudah terlihat kosong, hanya terdengar suara TV sayup-sayup yang menyala di dalam ruang loket penjual tiket subway. Lampu-lampu yang menyala berkedip-kedip seperti akan padam. Ai & Kumiko yang terengah-engah, bersandar pada tembok samping tangga turun.

“Now we’re here… then what?”, tanya Ai membungkukkan badannya kelelahan berlari.

“Untuk sementara, kamu berlindung dulu di sini, setidaknya sampe hujan meteor itu mereda.”, kata Kumiko menegakkan badannya.

“Lalu oneechan sendiri bagaimana?”, tanya Ai bingung.

“Aku akan keluar berusaha mencari papa & mama, & bantuan juga kalo ketemu…”, jawab Kumiko yang kemudian membuat Ai menjadi cemas.

“So I’m just stay in here? NO!”, seru Ai menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.

“Kita baru aja sampe, oneechan! Masa kakak langsung mau keluar lagi?”, kata Ai. Tanah bergetar pelan & lampu dalam stasiun berkedip lagi, sepertinya ada meteor yang menghantam tanah di luar sana. Kumiko kemudian memegangi kedua lengan Ai.

“Tadi kita kehilangan papa & mama gara-gara gw, jadi sekarang harus gw yang cari mereka”, kata Kumiko.

“Ngga! Kita cari bareng…”, pinta Ai.

“Dame!! Kamu harus tetap berlindung di sini, di bawah sini lebih aman daripada di luar sana”, kata Kumiko melarang Ai keras.

“Lalu neechan bagaimana? Di luar sana tidak aman…”, jawab Ai.

“I’ll be fine. Shinpai shinaide…”, kata Kumiko tersenyum.

“Kamu tunggu di sini ya, kalau dalam setengah jam gw gak balik, kamu gak usah tunggu gw lagi, kamu langsung keluar cari pertolongan, gw yakin saat itu hujan meteor mestinya udah berhenti.”, kata Kumiko.

“Apa maksudnya klo neechan gak balik?”, tanya Ai sedih.

“Denger ya, Ai-chan… Kamu harus janji, that you WILL survive”, kata Kumiko mempererat cengkraman di kedua lengan Ai & menatapnya lekat-lekat.

“No matter what, you HAVE TO survive! Mengerti kamu?!”, kata Kumiko bersungguh-sungguh. Ai gemetar, karena ia seperti bisa merasakan inilah saat terakhir ia masih melihat kakaknya.

“You have to promise, Ai-chan! Jadi nanti kita semua bisa bersama-sama pulang ke rumah dengan selamat, dengan papa & mama juga, bertemu lagi dengan Yoshi & keluarga di Jakarta, & gw juga bisa ketemu suami & anak gw lagi di Tokyo, & kamu juga bisa bertemu lagi dengan orang yang paling kamu sayang. You hear me, Ai-chan..? you have to promise!”, kata Kumiko. Wajah Ai menegang, lalu ia mengangguk pelan.

“Say it, Ai-chan!”, Kumiko mengguncang Ai.

“I promise…”, jawab Ai yakin. Lalu Kumiko memeluk Ai erat.

“Good… I always know you’re a though girl…”, kata Kumiko sambil memeluk Ai. Setelah Kumiko melepaskan pelukannya, ia mulai berjalan menaiki tangga keluar, sambil menyembunyikan air mata yang mulai mengalir di pipinya.

“Oneechan juga janji!”, seru Ai di belakang Kumiko, Kumiko hanya berbalik & tersenyum, lalu menghilang di ujung atas tangga. (“Oneechan…”), batin Ai saat sempat melihat Kumiko yang menangis saat berlari ke atas. Kemudian Ai melihat ke sekelilingnya, stasiun itu tampak sepi, diiringi sayup-sayup suara ricuh & berbagai dentuman keras di luar. (“Papa… mama… gw harap mereka gapapa, oneechan juga…”), harap Ai cemas dalam hati. Lalu ia meraba saku gaunnya & mengeluarkan HPnya.

“Choushi-kun… gw harap lu gapapa…”, Ai berbicara sendiri sambil menggenggam Shiroi usagi. (“Jakarta juga kena ngga ya? Gw harus kasih kabar ke Choushi…”), kata Ai dalam hati. (“Akh!! Sial..!! Hpnya udh gw balikin ke neechan… aduuhh… gimana caranya gw kirim kabar ke Choushi…”),  Ai merosot duduk di lantai, sedih & putus asa tak punya cara untuk menghubungi Choushi. Air mata menetes di pipinya yang terluka, (“what should I do… I wanna talk to Choushi… Just once more…”), pikir Ai sedih. Lalu ia perlahan mendongakkan kepalanya melihat sekitar, berharap akan menemukan sebuah telpon umum. Walau Ai sendiri tak yakin apakah idenya mencari telepon umum akan bisa membuatnya menghubungi Choushi, ia tetap bangkit & berjalan mendekati loket penjual karcis yang kini sudah kosong. Terdengar suara TV yang makin jelas saat Ai berada di depan kaca loket. Ai menengok-nengok ke bagian dalam, berharap menemukan pesawat telepon, kecewa karena yang ada hanya tumpukan tiket yang belum terjual & sebuah buku catatan kecil.

“…. Memang sayang sekali pemerintah tidak memberitahukan masyarakat tentang akan datangnya bencana ini. Jika saja pihak pemerintah mau berbaik hati untuk memberi peringatan kepada seluruh warga, tentu korban yang berjatuhan & persiapan menghadapi kehancuran ini bisa diantisipasi.”, kata-kata reporter berita di TV mengalihkan perhatian Ai. Walau kaca loket itu sudah retak, tapi Ai masih dapat melihat judul dari berita di TV itu, “The End is Here”.

“Hampir sebagian besar kota-kota besar di belahan bumi Amerika bagian Utara terkena dampak paling parah dari hujan meteor yang saat ini terjadi, seperti Washington D.C, New York, Ottawa, dan sebagainya. Sungguh mengerikan saya harus menyampaikan berita ini, tapi hujan meteor yang menghancurkan tersebut hanyalah awalan dari apa yang sebenarnya akan menabrak bumi. Dalam waktu kurang lebih 20 menit dari sekarang, oh maaf… maksud kami 17 menit dari sekarang, meteor raksasa berukuran 1/9 ukuran bumi, akan menabrak di daerah Tulsa, Oklahoma. Setelahnya dampak akan menjalar sampai ke kota-kota pesisir pantai Amerika, & terus sampai permukaan bumi manapun yang kami sendiri tidak tahu pasti.”. Ai gemetar hebat mendengar penjelasan yang baru saja disampaikan oleh reporter itu.

(“meteor… menabrak bumi… jadi, bumi akan hancur…?”), batin Ai diliputi kengerian membayangkan bahwa semua yang ada di bumi akan musnah, dalam waktu kurang dari 20 menit. (“Ini ngga mungkin…papa, mama, neechan, niichan, gimana? gw juga masih mau pulang dulu… Choushi-kun…”), Ai ambruk di tempat & menangis terduduk.

“Ini ngga mungkin… mungkin ini cuma mimpi, seperti mimpi-mimpi buruk gw yang selalu tentang kiamat… This can’t be happening…”, Ai berbicara sendiri menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu ia kembali memeluk kelinci putih kesayangannya.

“Gw mau ketemu lu dulu… gw mau liat muka lu dulu… gw harus bisa ketemu lu dulu…”,katanya terisak memeluk Shiroi usagi. Tiba-tiba terdengar ledakan besar di kejauhan dalam terowongan jalur kereta subway. Ai mendongak & mengantongi HPnya lagi. Suara ledakan itu menjadi suara gemuruh, yang makin lama makin keras mendatangi Ai. Ai segera bangkit, & terperanjat melihat kobaran api besar yang menyembur memenuhi terowongan jalur kereta bergerak cepat ke arahnya.

“Apa-apaan iniii..?!?!”, teriak Ai segera berlari ke arah tangga, ia bisa merasakan hawa panas mengejar di belakangnya.

“Kyaaaa…!!!”, teriak Ai histeris saat pipa-pipa air di atasnya hampir jatuh menimpanya saat mulai menaiki tangga. Ai dengan sigap sempat menghindar mundur, lalu segera melompati 2 anak tangga tempat pipa-pipa itu runtuh. Hawa panas mulai terasa menggigiti tubuh bagian belakangnya. Benar saja, saat melompat di tangga teratas, api sempat menyambar kakinya, & Ai pun terlempar sejauh 3 meter ke depan dan tubuhnya mendarat keras di aspal. Ai langsung tak sadarkan diri. Beberapa meter dari tempat Ai mendarat, terlihat tutup got di jalan seberang terlempar ke atas karena ledakan api dari dalamnya, begitu juga tutup got di jalan selanjutnya, & seterusnya. Tampaknya  ada ledakan pipa gas yang memenuhi ruang bawah tanah di kota itu. Daerah itu sudah mulai terlihat sepi, hanya sesekali masih ada bola api meteor yang menghantam tanah di kejauhan. Cukup lama Ai pingsan, kira-kira perlu waktu 5 menit sampai Ai mulai siuman & membuka matanya. Perlahan ia mengangkat kepalanya, kepalanya begitu sakit, ia memegang keningnya, terlihat darah segar menempel di tangannya, rupanya keningnya terluka cukup parah.

“Eughhh…”, erang Ai kesakitan mengangkat badannya terduduk di jalan. Pandangannya kabur, ia melihat bayangan kobaran api di kejauhan. (“Oh Tuhan… apa yang terjadi?”), pikir Ai sambil perlahan bangkit berdiri, lalu ia melihat sekeliling, pandangannya mulai jelas kembali.

“Subway itu… meledak…”, gumam Ai sendiri setelah melihat tangga turun menuju subway & papan besar di atasnya telah hancur menghitam karena ledakan tadi. Perlahan Ai kemudian berjalan mendekati persimpangan sebelah utara tempat Ai berjalan.

“Hujan meteor… sudah berhenti ya?”, kata Ai sendiri menatap berkeliling ke arah langit. Baru saja ia menengok berkeliling, matanya kemudian menangkap sesuatu yang sangat mengerikan di langit malam bagian barat. Terlihat seperti ada sebuah bulan yang tampak begitu besar & dekat dalam atmosfir bumi. Perlahan tapi pasti, meteor raksasa itu bergerak memasuki atmosfir bumi & terus mendekat. Di sekitarnya terdapat meteor-meteor kecil yang mendampingi meteor raksasa tersebut. Ai menutup mulutnya, terperangah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kepalanya menjadi sangat sakit.

“Oh my God…, neechan, dimana kamu? Papa.. mama…..”, Ai terduduk di jalan, kehilangan semua harapan.

“Choushi-kun…”, katanya lalu mengambil HPnya & melihat Shiroi usagi.

“No….”, kata  Ai sedih, ia sangat kaget ternyata bagian badan dari kelinci putih itu sudah hancur dalam kantungnya, & yang tersisa adalah bagian kepalanya yang masih menempel di talinya. Ternyata Shiroi usagi tertindih badan Ai sendiri saat tadi terlempar ledakan dari dalam subway, sehingga badannya remuk di dalam saku gaun Ai. HPnya sendiri juga sudah rusak, keypadnya sudah terlepas dari badannya.

“No…”, Ai berlinang air mata sambil mengeluarkan sisa badan kelinci porselen itu dari dalam sakunya, tangannya terluka saat tergores bagian yang tajam dari pecahan itu. Ai memeluk erat semua bagian Shiroi usagi, tak peduli tangannya perih tergores semakin dalam. Terdengar di kejauhan sayup-sayup suara sirine. Ai mendongak, & melihat sebuah ambulan berbelok di persimpangan yang cukup jauh dari tempatnya terduduk.

“Untuk apa berusaha menyelamatkan diri…? Untuk apa berusaha berlindung…? Siapapun takkan ada yang bisa selamat dari meteor itu…”, katanya sedih menatap meteor raksasa yang terlihat sudah semakin dekat.

“I wish mom & dad are here… I wish Kumiko & Yoshi are here too… I wish Choushi-kun is here….”, Ai makin terpuruk dalam tangisnya sendiri.

Pikiran Ai mengingat kembali saat papa & mamanya mengantarnya saat wisuda, 4 tahun yang lalu, wajah kedua orang tuanya terlihat begitu bangga. Kemudian Ai teringat bertabrakan dengan Choushi saat berjalan keluar hall, tak disangka di tengah kerumunan orang-orang yang bingung mencari keluarganya, Ai malah bertemu dengan Choushi, betapa tidak tahunya ia bahwa saat itu Choushi sudah selalu menaruh perhatian padanya. Ai tersenyum sedih.

Kemudian Ai mengingat saat ia berkunjung ke Tokyo, kota impiannya, setahun sebelumnya, saat ia membayangkan suatu hari akan bisa kembali ke sana untuk menuntut ilmu & membuat papa & mama bangga, namun sepertinya saat ini impian itu akan hancur selamanya. Ai juga mengingat saat ia membelikan sebuah souvenir, yang ia sendiri tak mengerti kenapa hiasan itu begitu istimewa untuknya sendiri. Ternyata souvenir itu sudah disiapkan untuk diberikan ke orang yang paling berarti dalam hidup Ai, tanpa kesadaran saat belum bertemu dengan Choushi.

Pikirannya kemudian melayang ke ingatannya saat bermain mesin arcade Dance Revo di game center bersama Kumiko, Ai ingat betapa orang-orang yang menonton mereka bermain terlihat kagum. Lalu secara reflek pikirannya beralih ke ingatannya saat pertama kali mencoba bermain itu lagi bersama Choushi, Ai ingat betapa ia & Choushi panik saat memainkan lagu yang tak ia kenal dengan langkah-langkah yang sulit. Walau dalam hatinya ia merasa geli mengingatnya, tapi tangisnya makin menjadi.

Ingatannya akan kakak laki-lakinya tertuju pada saat ia bermain game tembak-menembak & peperangan bersama Yoshi. Sungguh menggelikan jika Ai mengingat saat Yoshi justru membunuh sandera yang harus dilindungi, & saat Yoshi terpelanting dalam mobil yang ia kendarai dalam permainan peperangan itu. Belum lagi Kumiko saat terjebak dalam mobil yang sengaja ditabrakkan oleh Ai menuju sebuah Tank. Ai dapat mengingat dirinya sendiri, Yoshi, & Kumiko tertawa terbahak-bahak menertawakan kekonyolan mereka. Tapi kemudian Ai juga mengingat setiap saat dirinya bermain tembak-menembak dengan Choushi, Ai ingat bahwa ia memberitahu langkah-langkah memasang bom. Belum lagi saat ia & Choushi sama-sama menertawakan musuh yang begitu dendam terhadap Ai. Dan juga saat Ai & Choushi tak sengaja saling menembak, & sama-sama tertawa terbahak-bahak. Sungguh semua itu kenangan yang tak terlupakan bagi Ai.

“Choushi-kun…”, isak Ai makin menjadi-jadi saat memeluk Shiroi usagi dalam genggamannya. Matanya terpejam. Sungguh pikirannya tak dapat pergi dari Choushi, mengingat bahwa tak mungkin lagi ia bisa bertemu dengannya, Ai begitu sedih yang menyesak, dadanya begitu terasa menyakitkan.

“Ai-chan……”, tiba-tiba Ai mendengar sayup-sayup suara Choushi memanggilnya. Ai menoleh mencari-cari sumber suara, tak ada orang satupun di sekitar situ.

“Choushi-kun… is that you…?”, kata Ai tak yakin apakah ia benar mendengar suara Choushi. Kemudian entah darimana datangnya, Ai tiba-tiba merasakan tengkuknya diliputi kehangatan. Rasa hangat & nyaman itu menjalar menuju seluruh lengannya, sampai akhirnya menyelimuti seluruh tubuh Ai yang duduk terpuruk. Ai meneteskan air mata, & tersenyum.

“It is you…”, kata Ai memejamkan matanya. (“Jangan sedih, Ai-chan… Kita akan selalu bersama…”), terdengar suara Choushi berbisik dalam batin Ai. Pipinya yang terluka tiba-tiba terasa dingin, seperti ada sesuatu yang mengecupnya perlahan. (“Choushi-kun… Aitakatta…”), Ai berkata dalam hati sambil mengecup kepala Shiroi usagi dalam genggamannya.

Lalu ia menengadah menatap langit malam, Ai masih dapat melihat 2 buah bintang yang bersinar paling terang seperti saat ia lihat dengan Kumiko di taman tadi.

“Kita akan bertemu di sana… ya kan, Choushi-kun…?”, Ai bertanya sendiri sambil menatap kedua bintang itu.

Sesaat kemudian, bumi bergetar hebat, seperti gempa berkekuatan 10 skala richter mengguncang bumi. Ai menatap ke barat, terlihat meteor raksasa sudah menghantam bumi. Atmosfir bumi malam itu langsung berubah merah seperti langit senja. Terlihat di kejauhan awan ledakan yang sangat dahsyat melesat tinggi di angkasa. Seketika itu Ai dapat merasakan hembusan angin yang sangat kencang mendorongnya mundur sejauh 2 meter & terhempas ke tanah. Ai berusaha bangkit untuk duduk. Kemudian gemuruh & goncangan bumi terasa semakin keras, terlihat di kejauhan datang ombak permukaan bumi yang hancur setinggi gunung mulai menyapu apapun yang ada di hadapannya. Terlihat gedung-gedung besar tersapu dengan begitu mudahnya. Ai mengalihkan pandangannya ke arah dua bintang yang bersinar terang di langit jauh, lalu kembali memeluk erat Shiroi usagi.

(“Aishiteru, Choushi-kun…”), Ai berkata dalam hati. Akhirnya gelombang kehancuran setinggi gedung bertingkat 300 lantai yang maha dahsyat itu menghampiri Ai, terlihat puing2 tembok, tanah, besi yg bercampur aduk hancur berantakan bergulung di gelombang itu, & menyapu hancur apapun yang dilewatinya. Hanya perlu waktu kurang dari 2 menit sampai gelombang kehancuran itu memusnahkan segalanya yang ada di permukaan bumi.

Fukkatsu no Yume (part.3)

Waktu New York sudah menunjukkan jam 17.46, papa yang sedang duduk di kursi lobi hotel,melirik jam tangannya. Sang papa sudah rapi memakai jas hitam dengan dasi berwarna coklat. (“Where’s my girls..”), katanya dalam hati. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka, sang mama melangkah keluar mengenakan kimono sutra warna putih-coklat muda dengan corak daun maple musim gugur benang emas, rambutnya terlihat disanggul rapi sederhana dengan jepit kecil berbentuk anggrek menghias bagian belakang sanggulnya. Di belakangnya melangkah berdampingan Ai & Kumiko. Kumiko memakai simple dress bahan satin selutut model kemben warna hitam yang dipadu dengan bolero corak glitter,rambutnya disanggul ke atas dengan apik. Di sampingnya Ai mengenakan gaun panjang satin warna maroon dengan sarung tangan panjang yang senada,di bagian dada tersemat bros kelinci putih yang berkilau,rambutnya dibiarkan terurai setelah tadi dirapikan dengan roll besar hingga sekarang menjadi ombak ikal yang cantik. Mereka bertiga dimake-up minimalis. Papa terpana melihat mereka bertiga datang, tapi tak hanya papa, semua orang yang ada di lobi itu ikut terpana melihat mereka.

“Whaaa… Kirei na…!!!!”, seru sang papa menyambut mereka bertiga dengan tangan terbentang. Mereka bertiga tersenyum, Ai menundukkan kepalanya sedikit malu.

“Huss.. jangan kenceng-kenceng ngomongnya pa..”, kata mama menggerak-gerakkan tangannya di depan mukanya.

“Gak apa-apa dong.. Papa kan bangga liat kalian.. he? Ai-chan, dou shita no?”, tanya papa yang melihat Ai sedikit kikuk.

“mm..? daijoubu..”, jawab Ai menggeleng-gelengkan kepalanya gugup. Maklum saja, Ai belum pernah memakai gaun sepanjang itu. Ai yang terbiasa tampil lincah & sedikit tomboy, sekarang harus tampil anggun lengkap dengan gaun & tatanan rambut. Melihat itu Kumiko kemudian memegang kedua bahu Ai.

“Ai-chan.. Lu klo kikuk gitu jadi gak cantik.. Sia-sia dong gaun itu gw yang pilihin waktu beli,klo jadinya lu gak enjoy sm gaun itu.. now listen, stop looking down.. you look very very pretty.. & you know what? you always are! now look straight.. & smile.. & make everyone tonight falls in love with you.. okey..?”, kata Kumiko sungguh-sungguh sambil tersenyum. Ai pun tersenyum, ada perasaan lega di dalam dadanya.

“Well.. Shall we..?”, ajak papa. Kemudian mereka berempat keluar hotel & masuk ke mobil sedan yang sudah disiapkan Mr. Andrews untuk menjemput mereka.

Tak perlu waktu lama untuk sampai di tempat acara. Ada karpet merah terbentang di jalan masuknya, terdapat beberapa wartawan yang siap memotret para tamu yang datang. Ai sekeluarga sempat diminta untuk difoto dahulu sebelum masuk. Terlihat logo salah satu perusahaan elektronik terbesar di dunia menjadi salah satu penyelenggara acara tersebut. Semua orang di acara itu memakai pakaian & dandanan yang mewah. Sang mama cukup menarik perhatian orang-orang karena memakai pakaian kebangsaan yang ia banggakan, yaitu kimono pemberian neneknya yang sekarang ia kenakan. Namun tak sedikit orang juga yang ikut menolehkan kepala mereka untuk memperhatikan Ai lebih jelas.

Taman yang di dalamnya banyak terdapat tanaman yang dipangkas menjadi macam-macam bentuk itu sudah disulap dengan begitu banyak lampu hias, air mancur mini, meja-meja penyaji makanan & minuman yang diatur apik, lengkap dengan rangkaian-rangkaian bunga & hiasan es balok yang sudah dipahat menjadi bentuk macam-macam logo perusahaan besar yang menjadi sponsor & penyelenggara acara. Tak ketinggalan gazebo-gazebo putih yang salah satunya digunakan untuk sekelompok pemain alat musik gesek & tiup memainkan musik lembut untuk menghibur para tamu undangan. Ada juga sebuah panggung yang lengkap dengan meja & podium di atasnya.

“Nah, kalian lihat yang di sana itu? Yang memakai tuxedo hitam berdiri di samping deretan meja podium, sedang berbicara dengan wanita bergaun biru, that’s Mr. Andrews.”, kata sang papa sambil menunjuk ke arah Mr. Andrews yang berperawakan gagah.

“Oh.. kalau begitu ayo kita temui beliau, kita harus berterima kasih”, ajak mama. Lalu mereka melangkah ke arah samping podium. Belum sampai ke depan Mr. Andrews, wanita di sampingnya sudah melihat mereka datang, wajahnya terkejut senang sampai mulutnya membuka lebar.

“Tuan Shirokawa..!  Sayang, itu tuan Shirokawa & keluarganya..!”, kata wanita itu sambil menyodok tuan Andrews di sampingnya, ternyata wanita itu adalah istrinya. Tuan Andrews juga terlihat sangat senang melihat Ai sekeluarga.

“Aoki..!!!! How are you, my brother…?!?”, sambut tuan Andrews langsung memeluk erat papa, mereka pun saling menepuk punggung.

“Never been so great to finally here, & seeing you still rocking the world, as always, Michael..!!”, kata papa bersemangat, mereka berdua pun tertawa lepas.

“Ahahaha.. Sudah berapa tahun lamanya sejak kita terakhir bertemu, Aoki..?”, tanya tuan Andrews.

“9 atau 10 tahun mungkin..? Hmm.. I lost count.. Hahahaha..”, papa tertawa keras.

“Even so, finally, kita ketemu lagi..!! Terima kasih banyak sudah datang kemari..”, kata tuan Andrews kepada papa sekeluarga.

“Tuan Andrews.. Kamilah yang harus berterima kasih atas segala akomodasi yang sudah Anda berikan.. Kami merasa sangat dimanjakan selama di sini”, kata mama kepada tuan Andrews.

“Oh.. No no no.. It’s my pleasure, Mrs. Shirokawa. Selama Anda sekeluarga senang, apalagi saya..”, jawab tuan Andrews sopan.

“Dan siapa ini dua wanita cantik di belakang Anda, tuan Shirokawa..? are these your princesses..?”, tanya nyonya Andrews yang melihat Ai & Kumiko.

“Ah yes.. Yang ini adalah Kumiko, anak kedua saya, sekarang tinggal di Tokyo bersama keluarganya”, kata papa seraya mengenalkan Kumiko. Dengan sopan Kumiko mengulurkan tangan & berjabatan dengan tuan & nyonya Andrews.

“Oh.. ini yang kau bilang menikah dengan klan Morikino?”, tanya tuan Andrews kepada papa. Papa mengiyakan pertanyaan itu.

“Benar om, memangnya kenapa?”, tanya Kumiko.

“Saya kenal beberapa orang dari klan Morikino, great people with wisdoms.”, jawab tuan Andrews tersenyum.

“Dan yang ini adalah Ai, anak bungsu saya, hobinya olahraga & meninju orang, hahaha..”, kata papa mengenalkan Ai kepada pasangan Andrews. Ai mendengar itu langsung tertunduk malu setelah berjabatan tangan dengan tuan & nyonya Andrews.

“Hahaha.. That can’t be true, Aoki.. She looks very very elegant.. Even so,I did feel her strong hand-shake a little just now, hahaha..”, kata tuan Andrews yang membuat Ai menjadi tersipu.

“oh..? Thousand apologies, sir..”, kata Ai malu.

“oh.. no no.. tak perlu minta maaf,nak..  justru saya senang, soft but strong, I like that! berarti kamu sukar untuk didapatkan oleh sembarang orang”, kata tuan Andrews. Ai tertawa kecil mendengarnya.

“Sayang anakku Peter sedang bekerja di Chicago, kalau saja dia di sini, pasti kamu akan langsung tante kenalkan..”, kata nyonya Andrews kepada Ai. (“weh? Fyuuhh… Untung gak ada…”), batin Ai dalam hati.

“Nah.. Sekarang silahkan kalian nikmati acaranya.. acara penyerahan awardnya masih jam 20.00 nanti, jadi sambil menunggu kalian bisa nikmati pesta ini semau kalian, nikmati makanannya, musiknya, sedikit slow-dance mungkin? (tuan Andrews mengedipkan matanya ke papa) atau menikmati pemandangan gedung Chrysler yang menakjubkan di malam hari, terserah kalian.. Enjoy the evening…”, kata tuan Andrews kepada papa sekeluarga.

——————

Sepanjang malam Ai bersama Kumiko mengelilingi taman itu, melihat-lihat macam bentuk tanaman pangkas, dari bentuk seperti gedung Chrysler, patung Liberty, menara Eiffel, sampai teko di kartun Beauty & the Beast, hingga susunan huruf yang membentuk kata Schimdt. Ternyata taman itu memang sangat luas, terdapat 3 anak-taman yang luasnya masing-masing seperti lapangan volley di bagian bawahnya, yang terlihat seperti undakan lebar ke bawah, & di bagian ujung bawahnya adalah susunan kolam ikan & air mancur yang luas & besar. Mama & papa mengekor nyonya Andrews berkeliling di antara tamu untuk berkenalan & bercengkrama. Langit malam itu dipenuhi bintang-bintang di segala penjuru. Sesekali ada pria muda mencoba untuk berkenalan dengan Ai, tapi Ai selalu menanggapi dengan “No thank you” sambil tersenyum lalu ngeluyur pergi. Saat di dekat air mancur mini samping gazebo,kumiko akhirnya berkomentar.

“Knapa sama sekali gak mau kenalan sama cowo-cowo tadi, Ai-chan? Mereka ganteng-ganteng lho.. yakin lu gak nyesel?”, goda Kumiko.

“Gak tertarik aja, oneechan.. Belum tentu cocok juga”, jawab Ai.

“Tapi kamu kan blum nyoba? Kali aja gitu ada yang cocok, kan lumayan.. bule, hehe”

“Haha.. Bule-potan maksud neechan? Hahaha… Ngga ah, susah deeh kalo mau cari yang cocok sama aku seperti…”, Ai tiba-tiba menghentikan omongannya.

“Seperti apa..?”, tanya Kumiko ingin tahu.

“Err.. Oh.. Wah.. Banyak bintang!”, kata Ai menengadah ke atas & menunjuk langit.

“Hahaha.. ooh.. gw ngerti.. gak ada yang kayak Choushi-kun ya..? hahaha, pake ngalihin ke bintang-bintang segala.. Kamu malu ya nyebutnya?”, kata Kumiko.

“Eh tapi beneran lho, bintangnya banyak banget itu!”, seru Ai berusaha tampak sewajar mungkin, padahal kalau saat itu wajahnya disorot lampu terang, akan terlihat jelas wajahnya yang merona merah.

“Wah… iya… wuihh… beneran banyak!”, kata Kumiko yang baru menyadari banyaknya bintang malam itu. Ai tersenyum geli sendiri.

“Kamu… bener-bener sayang dia ya, Ai-chan?”, Tanya Kumiko pelan sambil menatap Ai lekat-lekat. Ai tidak menjawab, tapi ia tersenyum menatap langit.

“………… iya “, jawab Ai pelan setelah terdiam cukup lama. Ai melihat ada 2 bintang yang bersinar paling terang di langit, (“seperti 2 bintang yang ada di sana, ingin sekali rasanya bisa abadi bersama di atas sana, bersinar bersama..”), batin Ai dalam hati, ia pun tersenyum. Seketika itu, tiba-tiba terlintas sebuah bintang jatuh yang melesat sangat cepat, & kemudian menghilang. Ai & Kumiko sama-sama tersentak kaget.

“Did you see that..!?!”, teriak Ai & Kumiko bersamaan.

“iya..”, jawab mereka berdua juga bersamaan. Mereka pun tertawa terbahak-bahak.

“Wahahaha.. a real shooting star.. baru liat gw..cepet banget ya?!”, kata Kumiko masih tak percaya.

“Iya.. shooting star emang gitu, soalnya jauh.. kalo keliatannya jatuhnya pelan, itu justru bahaya, karena deket, kalo itu sih ngeri”, sahut Ai juga masih terpana melihat langit.

“Ada lagi gak ya.. Seumur-umur baru liat gw..”, kata Kumiko lagi. Mereka kembali menatap langit, berharap akan ada lagi bintang jatuh yang melesat lewat. Benar saja, semenit kemudian terlihat ada 2 bintang jatuh yang melesat cepat di angkasa.

“Huwaaa… ada lagi!!”, pekik Ai sambil melompat, Kumiko hanya mengangguk-angguk bersemangat. Kedua bintang tersebut pun kembali lenyap dari pandangan.

“Kayaknya lagi hujan meteor ya…?”, tanya Kumiko tanpa mengalihkan pandangannya dari langit. Mendengar pertanyaan Kumiko tersebut, Ai tiba-tiba teringat dengan berita yang ia lihat sekilas sewaktu berolahraga di gym pagi itu.

“Eh…  pagi ini aku liat memang katanya begitu lho.. di berita tadi,disebutin kalo ada stasiun luar angkasa ada yang hancur gara-gara hujan meteor”, terang Ai.

“Eee…? Hontou desu ka? Sampe hancur? Wah kalo itu sih ngeri.. trus dibilang ngga kalo akan terjadi hujan meteor lagi?”, tanya Kumiko.

“Ngga dibilang sih… Hmm.. tapi ngga pasti juga, karena kata reporternya, ada desas-desus akan datang meteor raksasa gitu..”, jawab Ai.

“Hah..?? Kok malah makin ngeri….”, kata Kumiko perlahan kembali menatap langit malam. Saat mereka berdua masih menatap langit, 5 menit kemudian terdengar suara pesawat seperti akan melintas di kejauhan. Mata mereka mengikuti asal suara, ternyata dari arah utara, terlihat ada sebuah pesawat di kejauhan yang tampak sangat kecil seperti sebutir beras dengan lampu pesawat yang mengedip akan melintas di atas mereka.

“Kalo kamu udah sering liat shooting star?”, tanya Kumiko mengalihkan pandangannya.

“Mmm.. ngga juga, jarang…”, jawab Ai yang masih melihat ke arah pesawat. Entah kenapa, Ai merasakan firasat tidak enak saat melihat lampu pesawat yang mengedip itu. (“Kok pesawat itu gak lewat-lewat sih..?”), batin Ai dalam hati. Perlahan namun pasti, lama-lama Ai bisa melihat memang ada sesuatu yang salah pada pesawat itu.

“Oneechan! Pesawat itu.. kok kliatannya… kayak kebakar yah?”, tanya Ai sedikit panik.

“He? Kebakar? Mana?”, jawab Kumiko bingung.

“Pesawat itu.. kok kayak kebakar.. Tuh kan, kok suaranya makin gede?? Dan… Kok… Seperti mendekat… ke arah sini…???”, Tanya Ai makin panik sambil menunjuk ke arah pesawat yang di maksud. Benar saja, tak hanya Ai & Kumiko yang menyadari ini, beberapa tamu undangan lain juga ada yang memekik pelan & menunjuk-nunjuk ke arah pesawat. Sekarang pesawat itu sudah tampak seukuran anggur dari mata mereka. Terlihat jelas di bagian belakang dekat ekor pesawat ada api & asap yang menyembul keluar. Dan yang makin membuat Ai & Kumiko khawatir, pesawat itu menukik ke arah mereka berdiri.

“Ya ampun.. aduh.. pesawat itu bakal jatuh.. Dan sepertinya.. akan jatuh ke sini”, kata Kumiko panik, lalu Ai menarik kakaknya pergi mencari papa & mama mereka. Tamu lainnya juga sudah mulai panik. Tapi tak satupun dari mereka yang yakin harus lari kemana, karena tidak tahu pasti kemana arah pesawat itu akan jatuh.

“Papa sama mama kemana sih?!”, teriak Ai sambil mencari-cari di antara orang-orang yang baru menyadari akan ada pesawat yang jatuh.

“Ai-chan! Lihat!”, seru Kumiko menunjuk pesawat yang sudah semakin dekat & terlihat sedikit miring ke kiri, tapi masih tetap menukik ke arah mereka.

“Bugger!! Kita harus cepet menyingkir dari sini…”, seru Ai sambil mencari-cari jalan keluar terdekat.

“Kumiko! Ai! Cepat kesini!”, sang papa tiba-tiba muncul menepuk pundak Ai dari belakang & mengajak untuk mengikutinya.

Kemudian mereka berlari ke tangga kecil di balik salah satu gazebo & menuju taman di bagian bawah. Mama terlihat sudah berdiri cemas di dekat gerbang samping anak taman ke-2. Suara pesawat semakin keras, Ai menoleh ke belakang, pesawat itu sudah sangat dekat dari tempat mereka berlari, ekor pesawatnya yang terbakar terlihat mengerikan, posisi pesawat sudah semakin miring. Melihat itu, Ai yakin bahwa yang akan mengenai tanah terlebih dahulu adalah sayap kanannya. Suaranya begitu memekakan telinga hingga suara teriakan pun takkan terdengar. Papa sampai di gerbang terlebih dahulu & berlari keluar bersama mama. Mereka menoleh ke arah Ai & Kumiko yang masih sepuluh langkah lagi tiba di gerbang. Tiba-tiba terdengar suara mengerikan dari arah belakang mereka, mereka semua menoleh sambil terus berlari, sayap kanan pesawat baru saja menabrak pilar-pilar tembok besar samping kolam ikan di taman utama bagian atas. Bongkahan tembok hancur berhamburan. Ai sempat melihat ada beberapa orang yang sedang berlari di belakangnya ikut tertabrak hancur sayap kanan pesawat itu, sebelum ia sendiri menarik Kumiko & keduanya jatuh tersungkur di tanah menundukkan kepalanya. Ai dapat melihat hidung & badan pesawat itu lewat 5 meter di atas dirinya. Tanah bergetar hebat, sayap kanan pesawat itu masih menyapu bagian kanan taman, hanya semeter dari tempat Ai & Kumiko tersungkur. Nyaris saja mereka berdua ikut terlindas bagian ekor pesawat yang terbakar hebat lewat di atas mereka & kemudian mendarat hancur sepenuhnya di taman bagian bawah, & menghancurkan kolam air mancur & apapun yang masih ada di hadapan pesawat yang masih menggelincir itu. Sayap kanan akhirnya patah setelah hancur tertabrak tiang pagar taman bagian luar. Akhirnya pesawat berhenti meluncur setelah bagian hidung pesawat ringsek masuk ke dalam lantai dasar gedung sebelah barat dari taman. Suara pesawat yang tadi memekakan telinga sekarang terdengar mulai melemah. Ai & Kumiko bangkit perlahan, abu hitam tampak berserakan di tubuh mereka & sekitar mereka. Mereka baru menyadari betapa dekatnya mereka dengan maut setelah melihat jalur hancurnya tanah yang melintas di samping tempat mereka tadi tersungkur. Puing-puing pesawat yang terbakar, tembok-tembok yang hancur, tanah yang terbongkar, tanaman hancur berantakan, terlihat berserakan sejauh mata memandang. Orang-orang yang selamat terlihat mulai bangkit & mencari kerabatnya yang masih selamat. Kumiko langsung memeluk Ai erat, air matanya mengalir di pipinya yang sekarang terlihat hitam. Ai dapat merasakan sedikit rasa perih di pipinya kiri & bahu kanannya, ternyata ia terluka gores panjang & berdarah.

“Kamu terluka, Ai-chan!”, seru Kumiko memegang wajah Ai.

“Gak apa-apa… Akh! Cuma luka kecil,yang penting kita selamat, oneechan…”, kata Ai tersenyum lalu memeluk kakaknya lagi. Gaun Kumiko terlihat robek di bagian lengan karena ditarik keras oleh Ai tadi,gaun panjang Ai juga robek pada bagian bawahnya, sehingga tulang keringnya kini terlihat.

“Kumiko-chan!! Ai-chan!! Dimana kalian??”, terdengar suara papa yang berteriak-teriak di kejauhan. Mendengar itu, Ai & Kumiko berjalan ke arah datangnya suara. Karena hampir terjatuh tersandung gaunnya sendiri, Ai kemudian menarik bagian yang robek hingga putus, jadi kini terlihat bagian depan gaunnya sudah lenyap di bawah lutut menyamping. Ternyata papa & mama sudah berada di luar taman yang aman dari jalur pesawat jatuh. Mama langsung berlari mendatangi kedua putrinya sambil berlinang air mata.

“Ya Tuhan.. Mama mengira sudah kehilangan kalian selamanya..”, seru mama terisak sambil memeluk Ai & Kumiko. Papa juga ikut memeluk dari belakang.

“Thank God you’re both safe. Papa tadi lihat pesawat itu melindas tanah, papa berpikir, ya Tuhan, kedua putriku di situ…”, kata papa terbata-bata menahan tangis.

“Ai menarikku, kita jatuh tepat di posisi yang aman”, kata Kumiko menepuk kepala Ai.

“We’re lucky,ma,pa..”, jawab Ai tersenyum & memeluk mamanya lagi.

“Pipimu terluka, Ai-chan.. Ayo kita cari bantuan. Bagaimana denganmu Kumiko?”, Tanya mama khawatir.

“Daijoubu… Papa & mama sendiri?”, Kumiko bertanya balik.

“Kami tidak apa-apa. Kami tadi langsung diseret Michael & ajudannya ke sini. Terima kasih banyak,Michael!”, seru papa sambil berbalik ke belakangnya, namun ternyata tuan Andrews tidak ada di situ. Kini terlihat orang hilir mudik mencari-cari kerabat mereka di antara kerumunan di pinggir jalan besar luar taman. Papa mencari-cari Michael, lalu tiba-tiba menangkap salah satu petugas security taman yang melintas dihadapan papa.

“Where’s Mr. Andrews?”, tanya papa.

“He went back inside,sir… Looking for his wife”, jawab petugas itu lalu melanjutkan larinya ke dalam taman.

“Kalian tunggu di sini dulu ya, papa ingin lihat keadaan Michael”, kata papa lalu berlari masuk kembali ke taman. Mama meneriakkan papa untuk hati-hati, papa hanya mengangguk sambil terus berlari.

“Apa yang sebenarnya terjadi, ya Tuhan.. darimana datangnya pesawat itu..”, kata mama sambil terus menggenggam tangannya sendiri cemas.

“Entahlah ma.. tadi kita juga kaget, kita sudah lihat dari jauh, tapi ngga ngira kalo pesawat itu akan jatuh beneran.. di sini lagi..”, jawab Kumiko memegangi kedua bahu mamanya. Ai yang berdiri memperhatikan orang-orang di sekitar yang masih diliputi rasa panik, merenung dalam hatinya, (“ya Tuhan.. aku hampir mati tadi… apa jadinya kalo pesawat tadi tepat melindas kami? Aku… aku…”), lalu ia menatap langit, (“aku takkan bisa pulang ke Jakarta… Aku… tak akan bisa melihat dia lagi… ya Tuhan, terima kasih sudah memberiku keselamatan..”), air mata mengalir ke pipinya yang berdarah. Lalu ia meraba-raba kantong kecil dalam gaunnya, & mengambil keluar HPnya, melihat kelinci putih yang tergantung, lalu ia peluk di dadanya erat-erat. (“Syukurlah kamu gak apa-apa, shiroi usagi… Choushi-kun, aku gak apa-apa…”), batinnya dalam hati sambil memejamkan matanya. Di kejauhan mulai terdengar suara sirine ambulan dan mobil pemadam kebakaran yang berdatangan.

“Istri Michael… ternyata… tewas…”, kata papa sedih sambil menghampiri mereka kembali.

“Apa..?? Kok bisa…?? Bukannya bareng sama mama & papa tadi…?”, tanya Kumiko heran.

“Engga… tadi nyonya Andrews sedang di toilet waktu kejadian. & ternyata, beliau ditemukan tewas tertindih puing-puing tembok saat menyelamatkan diri.”, kata papa sedih, matanya berkaca-kaca menatap sang mama.

“Syukurlah kamu tidak apa-apa, Reiko…”, kata papa lalu memeluk mama erat. Sudah lama sekali Ai & Kumiko tidak melihat keduanya berpelukan erat seperti itu, mereka pun ikut terharu melihatnya. Kemudian Kumiko mengeluarkan HPnya & berjalan menjauh, Ai melihat kakaknya berbicara di telepon, (“pasti menelepon Shinobu”), pikir Ai sambil kemudian juga berjalan ke pinggir jalan & bersandar di pagarnya. Terlihat mobil-mobil yang sedang melintas ikut berhenti & menonton peristiwa itu, bahkan ada beberapa di antaranya turun & ikut membantu orang-orang yang terluka. Ambulans, mobil pemadam kebakaran, mobil polisi, mobil pribadi, tampak tumpah ruah dengan orang-orang di jalan. Area sekitar taman itu berubah menjadi seperti medan perang yang terang benderang dalam kota New York. Ada seorang petugas medis yang lewat melihat Ai kemudian mendatanginya.

“Anda tidak apa-apa? butuh perawatan dengan luka Anda?”, tanya pria muda berseragam medis itu menunjuk wajah Ai.

“Oh.. ini? It’s only a scratch.. Masih banyak yang terluka parah di dalam sana, Anda segera ke sana saja, saya gak apa-apa kok”, kata Ai menunjuk ke arah taman. Pria itu mengangguk & segera berlari masuk ke area taman. Ai lalu membuka kedua sarung tangan panjang yang masih ia pakai.

“Euch… Dammit..”, pekik Ai pelan saat menyeka luka di pipi kirinya dengan tangannya, tampak darah segar menempel di punggung telapak tangan kirinya, lalu ia menyeka darah itu dengan sarung tangannya. Ia pun menengok ke pundak kanannya yang tersayat cukup panjang. (“Mungkin seharusnya gw tadi pake jaket aja, jadi gak gampang tergores begini…”), batin Ai sedikit kesal melihat lukanya. (“yah… At least, you have no scratch at all, shiroi usagi! ii da ne?!”), kata Ai dalam hati sambil menatap kelinci putih dalam genggamannya. (“Aku harus kasih tau Choushi-kun… dia gak akan pernah nyangka apa yang baru aja gw alami”), batin Ai dalam hati lalu berjalan mencari kakaknya. Saat berjalan, di depannya melintas seorang petugas medis lain mendorong sebuah ranjang ambulan yang diatasnya terdapat kantong mayat yang sudah terisi, terlihat di belakangnya, tuan Andrews sedang menangis terisak dibopong oleh seorang laki-laki besar. Tak tega menyapanya, jadi Ai membiarkan mereka terus berjalan menuju salah satu ambulans. Ai terus menatap ambulan yang membawa nyonya & tuan Andrews itu pergi menjauh. Ai bisa ikut merasakan kesedihan tuan Andrews, kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya, pastilah sangat menyakitkan, Ai menjadi gemetar membayangkan kalau itu terjadi pada dirinya.

“Sebaiknya kita segera kembali ke hotel saja..”, Ai menoleh, ternyata papa di belakang Ai juga melihat kepergian ambulans nyonya & tuan Andrews.

“Iya.. tapi mana oneechan? Aku ingin pinjam HPnya…”, tanya Kumiko.

“Kukira dia bersamamu, Ai-chan?”, kata mama.

“Ngga ma, tadi terakhir aku lihat sedang menelepon Shinobu, di sekitar situ, sebentar ya ma, aku cari dulu… Oh ya ma, aku titip sarung tangan ini. Papa & mama tunggu saja di lobi gedung yang itu, nanti aku & neechan akan menyusul ke sana”, kata Ai menunjuk gedung sebelah timur taman yang memang ramai dijadikan tempat orang duduk, lalu Ai berjalan ke tempat ia terakhir melihat kakaknya. Setelah 2-3 menit berputar-putar dalam keramaian di tengah jalan besar itu, Ai menemukan kakaknya baru saja menutup telponnya.

“Oneechan… aku boleh pinjam HPnya?”, tanya Ai.

“Boleh.. nih.. papa & mama mana?”, tanya Kumiko setelah memberikan HPnya ke Ai.

“Ada di lobi gedung yang itu, papa ngajak kita segera pulang ke hotel.”, jawab Ai sambil menunjuk gedung yang dimaksud.

“Oke… tapi sebentar dulu, gw mau fotoin tempat ini, Shinobu harus lihat kejadian ini”, kata Kumiko seraya mengeluarkan kamera kecil dari saku boleronya dan berjalan mendekati puing pesawat yang sedang disemprot oleh pemadam kebakaran.

“Hati-hati!”, teriak Ai, Kumiko hanya melambai-lambaikan tangannya tanda tak perlu khawatir. Ai pun menyingkir saat ada kerumunan petugas medis yang berlari melewatinya. Baru saja Ai membuka HP kakaknya, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras di belakang Ai. Ai menunduk kaget & segera menoleh, sesuatu telah menabrak jalan aspal hingga terbongkar sampai ke dalam tanah, jaraknya kira-kira 10 meter dari tempat Ai berdiri. (“ada apa lagi ini..?”), tanya Ai bingung dalam hati sambil mendekati tanah terbongkar itu.

Fukkatsu no Yume (part.2)

Setelah perjalanan pesawat memakan waktu 20 jam, akhirnya mereka bertiga tiba di New York. Begitu sampai, mereka rasanya kaku seperti mau remuk semua, gara-gara kebanyakan duduk & tidur dalam pesawat. Taksi yang mereka naiki langsung meluncur dari airport menuju hotel di daerah Upper West Side di New York. Selama perjalanan itu Ai melihat keluar jendela, & selalu melihat pemandangan yang sama terus menerus, yaitu gedung, gedung, & gedung (“ini kota isinya gedung semua yak?!””) pikir Ai yang setengah kagum tapi juga kecewa.

Begitu sampai di depan hotel, mereka turun & dapat melihat tulisan di bagian atas pintu berhias awning “Waldorf Astoria”. (Whoaat..?!? gw tau tempat ini! kyk di TV! di serial.. mm.. uhh..”), pikir Ai dalam hati dengan wajah yang masih terheran-heran.

“Ayo Ai-chan.. Masuk..”, ajak sang mama yang sudah di depan pintu hotel yang sedang dibukakan oleh penjaga pintunya yang ramah.

“Aku tau tempat ini ma.. dari TV!”, kata Ai sambil berjalan masuk bersama sang mama.

“O ya? Kayaknya memang hotel mewah..”, kata mama setelah masuk & melihat kemewahan lobi hotel itu.

“Kok papa bisa ajak kita nginap di sini? kan pasti mahal banget..”), kata Ai heran sambil melirik ke arah papanya yang sedang berbincang dengan resepsionis.

“Mr. Andrews yang mengakomodasi kita selama di sini”, jawab mama yang sedang terpana melihat rangkaian bunga besar di meja bulat tengah lobi.

“Wew… Memangnya Mr. Andrews itu teman papa dimana? & besok itu acaranya..”, belum selesai Ai bertanya, mama sudah memotong.

“Sudah.. Kamu langsung tanya ke papamu sana..”, kata mama gak sabar. Ai menurut & menghampiri papanya yang masih di resepsionis.

“Pa!”, panggil Ai tiba-tiba sudah di samping papa.

“Oit! Knapa Ai-chan?”, sahut papa.

“Mr. Andrews teman papa di mana?”, tanya Ai.

“Beliau teman papa dulu waktu di Panasonic, sempat sama-sama berjuang melawan atasan sakit jiwa, hahaha.. tapi akhirnya kami sama-sama menyerah. Setelah kami berdua keluar, Mr. Andrews langsung meroket karirnya. & besok malam itu, ia akan mendapat penghargaan sebagai salah satu pengusaha paling inovatif & tersukses di amerika, versi…mm..aduh apa ya namanya, papa lupa.. Ya pokoknya bergengsilah..”, jawab papa panjang lebar kepada Ai.

“Hoo.. Sou ka.. Hebat juga teman papa! sampe undang papa segala kesini.. sekeluarga lagi! di hotel ini lagi! pasti dulu sahabat deket banget ya?”, tanya Ai lagi.

“Un! Sou de gozaru yo! Sangat dekat! dia itu orang hebat, bahkan sudah sukses pun, dia tak pernah lupa sama papa….”, kata papa terlihat terenyuh, hanyut dalam kekaguman untuk sang sahabat.

“Tuan Aoki Shirokawa, kamar Anda sudah kami persiapkan, ada di lantai 18. Mohon maaf sudah membuat Anda menunggu, pelayan kami akan mengantarkan Anda sekeluarga. Enjoy your stay..”, kata resepsionis tersenyum ramah yang menyadarkan papa & Ai.

“Ah.. yes! Thank you..”, kata papa kepada resepsionis, lalu melangkah menuju lift, diikuti oleh mama & Ai, serta seorang bellboy yang mendorong troli koper di belakang. Baru saja melangkah melewati meja bulat besar, tiba-tiba Ai melihat seorang wanita berumur 30 tahunan yang ia kenal baru saja masuk ke dalam lobi. Wanita cantik itu memakai coat panjang coklat yang dulu Ai pernah pinjam.

“Oneechan..!!”, teriak Ai membuat semua orang kaget di lobi, termasuk wanita yang ia panggil, Kumiko, kakak perempuan Ai.

“Weeh..?? Masih pada di sini smua..?”, Kumiko yang kaget langsung menyambut Ai yang berlari ke arahnya untuk memeluknya.

“Iyaah.. kita juga baru aja sampe..”, kata Ai setelah melepaskan pelukan dengan kakaknya.

“Gimana flightnya? Kamu sehat?”, tanya papa setelah mencium kening Kumiko.

“Iya sehat kok Pa.. Tapi flightnya, Blah.. Lama amat yak..”, kata Kumiko sambil menjulurkan lidah mengekspresikan lelahnya.

“Sama sayang.. Kita juga remuk semua rasanya..”, kata mama yang kemudian mencium kedua pipi Kumiko.

“Ya sudahlah.. Segera ke kamar aja, kamar kita sebelahan. Langsung istirahat, jadi besok malam pada cantik semua, ok?”, kata papa mengajak mereka menuju lift. Mereka tiba di depan kamar, papa & mama di kamar 1827, Ai & Kumiko di sebelahnya. Setelah saling mengucapkan “Oyasumii..” mereka pun masuk ke dalam kamar. (Oyasumii = Ucapan selamat tidur / istirahat).

“Ouwaaahh.. Samphee jhoughaa..”, kata Ai sambil menguap lalu melepaskan jaket kulit coklat gelap ke atas tempat tidur, kemudian melangkah ke jendela.

“Iya.. Geblek banget pegelnya gw.. Hwah!!”, kata Kumiko menghempaskan dirinya ke atas king-size bed. Ai dapat melihat gedung-gedung sebelah yang berjejer rapat sejauh mata memandang. (“Seperti waktu di Imperial Hotel di Tokyo, dapat kamar ngadep gedung-gedung juga”), batin Ai dalam hati. Bayangannya di kaca jendela memperlihatkan kuncir kudanya sudah mulai berantakan, maka ia pun melepaskan kuncirannya.

“Shinobu & Genji bagaimana? Sehat kan? Gapapa kan oneechan tinggal sebentar?”, tanya Ai yang lalu menyalakan TV. Terlihat ada berita di TV sedang memberitakan tentang stasiun ulang-alik milik Nasa baru saja hancur oleh penyebab yang masih diselidiki.

“Shinobu sehat kok.. Apalagi Genji.. Udah lari-larian terus dia sekarang”, jawab Kumiko yang sekarang terduduk di kasur.

“Waaah.. Genji udah bisa lari-lari? si mini-sumo itu?? wuaah.. pengen liaaaat..”, kata Ai histeris sendiri di samping Kumiko.

“Ya ke Tokyo laah.. Main-main.. Biar gw juga ada temen ngobrolnya, hehehe..”, sahut Kumiko mengacak-acak rambut ikal Ai.

“Iyaaa.. Maauuuuu…”, jawab Ai bersemangat tak peduli rambutnya berantakan.

“Kembaran lu ajak juga juga gih..”, kata kumiko tiba-tiba, Aipun tersentak.

“Eh?! Kem..baran..?”, Ai mulai merasakan wajahnya sendiri memerah, lalu menggulung asal rambutnya.

“Iya.. Kembaran lu itu.. Siapa? Choki? Satsuki?”, tanya Kumiko.

“Choushi…”, jawab Ai pelan.

“Nah ituu.. hehe.. Cieeh.. muka lu langsung merah gitu, imoutochan..?”, ledekan Kumiko makin membuat Ai salah tingkah.

“Hah..? Merah apaan..? Kaosku putih kok.. Apanya yang merah..?”, Ai mencoba menghindar, tapi senyum seribu gigi Kumiko ditambah alisnya yang naik turun menggoda, makin memojokkan Ai.

“Umm.. Euhhh…… Ah mandi aja aaahh..”, Ai kabur masuk ke kamar mandi. Kumiko langsung tertawa puas.

“Hahahaha.. langsung kabur.. Handuknya tuuh.. Ketinggalan..”, teriak Kumiko ke arah kamar mandi. Ai keluar lagi dari kamar mandi lalu buru-buru mengambil handuknya sendiri dari dalam koper. Karena gugup, Ai malah menyenggol tasnya sendiri jatuh, dompet & HP miliknya melompat keluar di lantai karpet.

“Hadoohh.. Oneechan siiy..”, kata Ai kikuk.

“Lho kok gw..? yang gugup kan elu.. Cieee… Choushi no Ai niihh…”, kata Kumiko yang melihat stiker di bagian belakang HP Ai. Ai pun makin panik (“Kyaaa..”), buru-buru menyambar HPnya, & meletakkan kembali tasnya ke atas meja, lalu masuk kembali ke kamar mandi. Di depan wastafel ia menyalakan HPnya, layarnya menyala, kemudian Ai memasukkan 6 digit angka sebagai pembuka phone-lock. Lalu Ai menunggu terdengarnya nada sinyal yang tersambung / tersedia. Ai menunggu.. menunggu.. & menunggu.. (“Aduh.. kenapa lama sekali..”) lalu Ai menunggu lagi. Masih terlihat tulisan Searching for Network di layar HPnya. (“Apa karena lagi di dalam gedung? Ah yang benar saja..”) batin Ai mulai kesal sambil melepaskan kaos putihnya & melemparnya ke samping wastafel.

“Masa gak ada sinyal..!?!”, teriak Ai kesal. Kumiko yang sedang menonton TV mendengarnya.

“Dou shita no?”, tanya Kumiko ke arah kamar mandi. Dengan cueknya Ai keluar kamar mandi tanpa kaos yang ia pakai tadi.

“Gak dapet-dapet sinyal! Sebel!”, kata Ai kesal sambil menunjukkan HPnya ke depan kakaknya.

“Weh.. Ai-chan, pake jaketmu.. Kalo ada orang liat dari jendela gimana?”, kata Kumiko menyerahkan jaket coklat yang Ai lemparkan ke atas kasur tadi.

“oh? iya! Kalo oneechan sinyalnya full?”, kata Ai tak sabar sambil mengenakan jaketnya asal-asalan.

“Iya gak masalah tuh.. Mungkin provider kamu yang payah?”, jawab Kumiko.

“Aaarrghh.. Sebaaall.. Masa gak bisa sama skali?”, kata Ai memarahi HP yang ada di tangannya.

“Ya sudahlah.. Pakai aja punya gw.. Okoshinakute mo ii yo..”, kata Kumiko heran melihat kekesalan Ai.

“Heuh.. gak apa-apa nih oneechan..? Gomen ne..”, kata Ai lesu.

“Daijoubu da yo.. kayak sama siapa aja lu pake gak enakan segala..”, kata Kumiko sambil menawarkan HP DoCoMo ungu metalik miliknya.

“Arigatou na, oneechan..”, kata Ai menerima HP kakaknya, tapi baru ia membuka flipnya,ia merubah pikirannya.

“Eh.. tapi mandi dulu aja deh..”, kata Ai seraya mengembalikan HP kakaknya & melepaskan lagi jaketnya.

“Aku pinjamnya nanti saja.. Yang penting udah tau ada alat komunikasi yang bisa aku pake, eh.. pinjam..”, kata Ai sambil nyengir & meletakkan jaketnya di atas koper.

“Ya udah terserah kamu..”, jawab Kumiko sambil melirik Ai yang berjalan masuk ke kamar mandi.

“By the way, Ai-chan. Kamu sekarang banyak olahraga ya?”, kata Kumiko lagi ke arah kamar mandi.

“Ah.. Kenapa?! Olahraga? Iya.. kenapa emangnya?!”, teriak Ai dari dalam kamar mandi.

“Good.. terusin ya!! Coba kamu dari dulu sudah begitu!”, balas teriak Kumiko. Ai hanya tertawa kecil lalu masuk ke dalam shower bathtub.

—————

Ting-nong. “Room service..”, terdengar suara dari depan pintu kamar 1828. Ai yang memakai jubah handuk sedang mengusap-usap kepalanya yang basah dengan handuk.

“Oh yaa.. Chotto matte..”, Ai mendongak lalu membukakan pintu. Suara air terdengar dari dalam kamar mandi, Kumiko sedang mandi.

“Taruh saja di meja sana..”, kata Ai menunjuk ke meja dekat jendela. Pelayan hotel meletakkan 2 nampan hidangan & jus di atas meja itu, lalu pamit keluar. Ai pun duduk di kursi samping meja & menyambar HP kakaknya di atas kasur. Jam menunjukkan pukul 16.08 waktu New York (“berarti jam 4 pagi di Jakarta”), batin Ai dalam hati. (“Pasti masih tidur.. Hihi”), batin Ai tersenyum sendiri, lalu mulai mengetikkan mail.

# Choushiiii-kuuun..!! ^O^ Huehehe.. Pasti lu masih tidur kan? Gw udh smpe New York. Udh di hotel,br mw makan late-lunch, hehe. Lu gapapa kan di sana? Ini nomor neechan gw,lu blsna kesini aja,coz HP gw payah >_< Missing you already.. T__T Oiyah, smpe lupa, Ohayoou..!! \(^o^)/ # lalu Ai mengambil HPnya sendiri & mencari di daftar contact, setelah selesai menyalin  nomor & mengirim mail itu, ia melemparkan HP kakaknya kembali ke atas kasur.

Ai memutar posisi duduknya & bersila menghadap jendela dengan menggenggam HPnya sendiri.

“Coba lu juga ada di sini..”, bisik AI ke shiroi usagi di tangannya, lalu ia tempelkan ke keningnya.

“Kangen……”, katanya lembut sambil memejamkan matanya.

“Kamu kenapa??”, Tanya Kumiko tiba-tiba sudah keluar kamar mandi.

“Ah?! Oh.. Betsu ni.. Gapapah..”, kata Ai buru-buru menaruh HPnya di pangkuannya, & membuka tutup piring makanan di meja.

“Ayo makan! Itadakimaaasu..!!”, seru Ai mengambil sendok & garpu.

————————-

Esoknya jam 08.05 Ai membuka matanya. Ia dapat melihat punggung kakaknya yang masih terlelap di sampingnya. Lalu secara reflek, ia meraba-raba samping bantalnya mencari HPnya, & menekan salah satu tombolnya untuk melihat apakah ada sms masuk, tapi kemudian Ai sadar bahwa HPnya tak dapat sinyal. Raut wajah Ai langsung merosot tenggelam lagi ke dalam bantalnya. (“Hmmhh… kira-kira dia udah baca mail dariku belum ya..”), batin Ai dalam hati. Lalu ia mendekatkan shiroi usagi ke wajahnya & bergumam pelan (“Ohayou..”) sambil tersenyum. Perlahan Ai bangkit dari tempat tidur & melihat ke luar jendela (“Waw.. taksi semua tuh? Banyak aja.. kalo di rumah banyaknya angkot..”), Ai berkomentar dalam hati. (“Hmm.. ngapain ya..”), Ai berjalan ke arah cermin & melihat ada katalog dari hotel itu di atas meja cerminnya. Ia pun melihat-lihat isinya. (“Ah yes..ada gym & kolam renang..”), pikirnya saat melihat salah satu halamannya. Lalu ia segera mengganti piyama putihnya dengan celana pendek & kaos singlet ketat abu-abu, menguncir rambutnya, memakai sepatu olahraganya, & mengalungkan mp3 player bentuk kepala mickey mouse, tak lupa ia mengantongi HPnya di saku samping celana pendeknya.

“Oneechan.. Okite yo.. Aku mau ke gym, mau ikut ga?”, tanya Ai sambil mencolek-colek lengan kakaknya yang masih terlelap.

“mmghh..? eh? Apaan sehh..?”, kata Kumiko sambil menggeliat.

“Gym.. ikut ga?”, ulang Ai mendekatkan kepalanya.

“Ng.. nduluan gihh.. gw entar..”, jawab Kumiko lalu memeluk bantalnya semakin erat. Melihat itu, Aipun melangkah menuju pintu.

“Eh iya.. Ai-chan.. tadi malem ada mail tuh dari Saiyuki..”, kata Kumiko sambil mengangkat kepalanya sedikit, lalu jatuh lagi.

“Saiyuki..? siapa..? oh! Choushi..!?!!”,  Ai langsung berbalik & berdiri di samping kakaknya. Kumiko lalu menunjuk-nunjuk ke meja sebelah Kumiko, tempat HPnya berada. Ai mengambil & mencari mail yang dimaksud. Ketemu. Jantung Ai berdebar saat menekan Select.

# Yokattaa.. Horree..Berarti udh sampe dgn selamat yah.. ^o^ Btw mail dari lu baru smpe siang ini, Hahaha.. telat bgt yah.Pdhl td pagi dari jam 3 gw gak bisa tidur lagi sampe terang.. >_< tapi gapapah,yg penting skrg lu udh smpe & gapapah… ^_^ Gimana di sana?Bagus kotanya?Udh kmana ajah? Ati2 ya say slama di sana.. >__< Have Fun yaaah..!! o-(^_^)-o # Ai tersenyum lebar membaca mail itu.

“Nciyee.. Ada yang sampe ga bisa tidur lagi dari jam 3 gitu deh..”, ledek Kumiko tiba-tiba, mengintip Ai yang tersenyum sendiri dari balik bantalnya.

“Hah..?? Huwaaa… Oneechan baca yaa..?? Waaa…Curaaang.. Knapa gak langsung kasih ke akuu..?!?”, Ai panik dengan rasa malu.

“Kamu tadi malem udah teler.. Gw panggil-panggil, kamunya udah tewas di kasur, jadi ya udah.. salah sendiri..”, jawab Kumiko santai membalikkan kepalanya ke sisi lain bantal.

“uuwhh.. hadoohh..”, Ai kebingungan sendiri menggaruk leher belakangnya.

“Hahaha.. santai aja kale.. Tenang.. Gw ini yang baca, lagian.. He seems very sweet.. He’s worrying about you, & walau gw ga pernah tau orangnya yang mana, but I think he’s sweet..”, kata Kumiko. Tak sadar Ai tersenyum & menjawab pelan, “He is..”.

“Huh? What? Coba ulangi lagi, Ai-chan! Ga jelas tadi.. Apa?”, ledek Kumiko bersemangat mendongakkan kepalanya.

“Eh?! Euhhh.. iie.. Nan de mo nai..”, Ai yang malu buru-buru menutup HP kakaknya & menaruhnya kembali ke meja.

“Udah ah.. ke gym dulu yaaa..”, Ai langsung berlari keluar kamar & menutup pintunya. Kumiko yang melihat itu hanya geli lalu kembali tidur. Di luar kamar Ai bisa merasakan wajahnya merah padam karena malu. (“D’oh.. Gw jadi lupa bales dah..”), kata Ai dalam hati. (“Tapi masa gw balik lagi? Maluuu.. habis dari gym aja deh balesnya..”), katanya lagi dalam hati lalu mulai melangkah menuju lift. Ia menekan tombol turun, tak lama lift terbuka, isinya hanya sang petugas lift yang ramah. Saat masuk lift Ai masih tersenyum-senyum sendiri mengingat isi mail terakhir dari Choushii tadi. (“He’s worrying about me..”), batin Ai makin tak bias menahan senyumannya sendiri. (“Hihi.. just like I always do too..”), Ai berbicara dengan dirinya sendiri dalam hati. Si petugas lift yang berumur kira-kira 40 tahun berwajah ramah ikut tersenyum melihat tingkah Ai. Menyadari si petugas lift memperhatikan,Ai segera mengubah sikap.

“Erhm..!! euhh.. Where’s the gym?”, tanya Ai ke petugas lift.

“It’s on 7th floor, my lady..”, jawab petugas sopan. (“Whoa? Lady..?”) Ai geli mendengarnya, tapi karena si petugas terlihat tulus mengucapkannya, maka Ai hanya menjawab “ Thank you.. May I have 7th floor please?”.

“Of course..”, jawab sang petugas lift yang memakai pin nama di dada bertuliskan Richard Kendall lalu menekan tombol 7.

“Thanks a lot, Richard!”, kata Ai riang setelah lift sampai & ia melangkah keluar. Senang namanya disebut, Richard tersenyum membungkuk.

“Always a pleasure, my lady..”, jawab Richard tersenyum. (“Jarang ada yang peduli dengan namaku”), batin sang petugas saat pintu lift menutup.

“Wow.. Nice gym..”, gumam Ai begitu masuk ke gym hotel itu. Tanpa pikir panjang ia berjalan menuju salah satu treadmill yang kosong, & memulai berjalan di atasnya sambil menyumpalkan earphone mp3 player ke telinganya.

30 menit berlalu, sekarang Ai sedang berlari kencang di atas treadmill, keringat terlihat jelas membasahi kaos singlet abu-abunya. Tak menyadari perempuan di sebelah kirinya yang sedang berlari pelan memperhatikan Ai terus sejak tadi. (“Kuat sekali berlari gadis itu..”), batin perempuan berambut pirang yang kira-kira seumuran dengan Kumiko iu dalam hati, lalu ia mengalihkan perhatiannya ke layer TV besar di depannya.

Siaran TV memunculkan breaking news, terlihat kehebohan sang reporter yang ingin menyampaikan berita di depan kerumunan orang-orang berunjuk rasa di depan gedung putih.

“Tampaknya berita kontroversi tentang rusaknya stasiun ulang-alik Pioneer III karena dihantam hujan meteor kemarin, membuat banyak orang menjadi was-was. Hal ini karena tersebarnya desas-desus tentang adanya meteor besar yang menuju bumi & akan menabrak daratan amerika bagian tengah utara. Sepertinya masyarakat yakin peristiwa hancurnya stasiun ulang-alik Pioneer III karena datangnya hujan meteor pra-meteor raksasa. Karena belum adanya bukti & penjelasan jelas tentang peristiwa Pioneer III & desas-desus kehancuran muka bumi, tampaknya masyarakat tak sabar untuk menuntut adanya kejelasan dari pihak pemerintah.”, kata reporter wanita di layar televisi.

Ai yang dari tadi mendengarkan mp3 player, tak melihat uraian berita di TV, tapi lalu ia melihat dari cermin sepanjang dinding bahwa hampir semua orang dalam gym itu melihat kea rah TV, iapun ikut menengok ke arah TV & melepaskan earphonenya.

“Kita harapkan pihak pemerintah segera memberi penjelasan agar keresahan masyarakat dapat terjawab, apapun itu, bagaimanapun itu, masyarakat berhak untuk tahu. Melaporkan langsung dari depan gedung putih, saya Susan Miller.”, kata reporter wanita menutup laporannya. Ai sempat membaca tulisan di bagian bawahnya sebelum berita itu selesai, “The Beginning of the End of Days?”. Ai mengernyitkan dahi, (“Apa maksudnya End of days? Kiamat gitu?”), pikir Ai tak mengerti sambil terus berlari & melihat bayangannya sendiri dalam cermin.

“Scary, huh..?”, kata wanita sebelah kiri Ai tiba-tiba, Ai kaget.

“uh..? Sorry..??”, sahut Ai sambil menurunkan kecepatan treadmill.

“Berita itu.. Scary… Entah benar atau tidak tentang  meteor itu. Sepertinya benar-benar akan datang bencana besar. Firasatku bilang demikian..”, kata wanita itu. Ai semakin tak mengerti ada apa sebenarnya. Baru saja ia ingin bicara, wanita itu sudah bicara lagi.

“Yah.. berdoa saja tidak akan terjadi apa-apa.. Mungkin smua itu cuma berita sensasi jadi panik berlebihan. Oh darn! Aku baru ingat, ada janji 10 menit lagi, gotta go..”, kata wanita itu lalu mematikan treadmillnya & ngeluyur pergi.

Ai yang dari tadi membuka-menutup mulut ingin bicara, sekarang hanya melongo melihat wanita itu pergi. (“What the..?! a meteor? end of days? Ada apaan sih..??”), piker Ai sendiri mengernyitkan dahi, lalu menurunkan lagi kecepatan treadmillnya jadi berjalan cepat. (“Memang sih gw jarang nonton TV,tapi ini? Knapa tiba-tiba ada berita begitu..? Beneran mau ada meteor jatuh gitu..?! seperti di mimpi-mimpiku saja..”), batin Ai berbicara sendiri dengan pandangan kosong. Plok!

“Ada di sini toh!!”, kata Kumiko tiba-tiba menepuk bahu Ai dari belakang, Aipun tersentak kaget & hampir jatuh dari jalannya.

“Who.. gomen gomen.. gw ga maksud ngagetin kamu, Ai-chan”, kata Kumiko yang berdiri di samping treadmill.

“Doh bikin kaget aja.. ada apa? Lho.. neechan gak ikutan?”, tanya Ai sambil melirik pakaian kakaknya yang jauh dari kata “olahraga”.

“iie.. shitakunai.. gw pengen santai-santai aja di sini. Eh iya,kamu cepet selesai gih, trus sarapan di buffet bawah, mama & papa udah di sana”, kata Kumiko.

“Buffetnya sampe jam brapa?”.

“Sampai jam 10.”, jawab Kumiko.

“Ah.. masih sejam lagi”, jawab Ai setelah melirik ke jam dinding di sebelah kiri belakang Kumiko.

“Tanggung ah.. yang itu belum.. 15 menit lagi deh”, kata Ai lagi sambil menengokkan kepalanya ke arah stepping-trek.

“Keburu habis lho buffetnya.. belum lagi kamu mandinya..”

“Ngga lama kok.. lagian gak bisa makan banyak juga. Oneechan duluan aja.. Bilang mama papa aku nyusul, okeh?”, kata Ai memberhentikan treadmillnya lalu turun.

“Baiklah.. mata ne..”, jawab Kumiko lalu pergi. Ai melangkah ke rak dumble & mengambil 2 dumble ½ kg lalu mulai menginjak-injakkan stepping-trek sambil melatih lengannya dengan kedua dumble tadi.

———————

Jam 09.35, Ai sedang menyendokkan sepotong besar omelette isi daging asap & keju ke dalam piringnya, & mengambil salad sayur & mayonnaise, lalu berbelok mengambil segelas jus jeruk di meja buffet yang lebih kecil.

“Kenapa baru muncul,Ai-chan? Makanannya lengkap banget, macem-macem lagi..”, sapa sang papa kepada Ai yang baru duduk bergabung.

“Iya tuh..papa kamu dari tadi gak berhenti ambil makanan terus”, kata sang mama sewot ke arah papa.

“Lho.. ya gak apa-apa kan? Disediain untuk dimakan, ya dimakan lah.. kan sayang..”, jawab papa membela diri.

“Iya memang, tapi kan malu..”, kata mama jengkel.

“Mou ii yo.. sekali-sekali gak apa-apa.. Jarang-jarang papa ngerasain sarapan buffet mewah begini, gapapa lah ma..”, kata Kumiko. Ai hanya geli melihat mamanya jengkel pada papa yang memang doyan banget makan. Sesendok omelet meluncur di tenggorokannya.

“Nanti malam acaranya mulai jam 19.00. kita ke sana naik mobil yang akan disediakan Mr. Andrews. Nama tempatnya Jefferson Schmidt’s Park”, kata papa.

“Oh.. jadi nanti di taman? Garden party dong?”, tanya Ai sambil menyendokkan omelet lagi ke dalam mulutnya.

“Iya.. pesta taman,kata Mr. Andrews tempatnya bagus di tengah kota, dari situ dapat melihat ke gedung-gedung paling besar & megah yang ada di New York, apalagi nanti malam-malam”, kata papa menerangkan.

“Jadi nanti kalian usahakan paling telat jam 18.00 sudah siap ya? Oya, kata Mr. Andrews di seberang hotel ini ada salon, kalian boleh kesana, nanti akan dicover oleh beliau juga,”, kata papanya lagi.

“Woaah.. Hontou desu ka?”, tanya Kumiko sumringah.

“Iya, kata beliau, istrinya langganan di situ, jadi nanti kamu berdua akan ditangani oleh stylistnya Mrs. Andrews”, jawab papa.

“Ha? Aku juga..?”, tanya Ai membelalakkan matanya.

“Iya.. kamu berdua,& mama juga. Kalian harus lebih cantik dari biasanya malam ini. Papa ingin tunjukkan anak-anak papa yang cantik-cantik ke Mr. Andrews!”, kata papa bersemangat.

“Haha.. papa ini.. kita berdua kan emang cantiiik..!!”, kata Kumiko lalu merangkul bahu Ai yang tersedak kaget.

“Uhuk! Ngh.. Adoh..apaan seh oneechan..”, kata Ai lalu meminum jus jeruknya. Yang lain hanya tertawa.

“Oya, habis ini kita jalan-jalan liat Central Park yuk?”, ajak Kumiko.

“Boleh.. tapi jangan kelamaan jalan-jalannya..”, jawab papa.

“naah.. klo itu, aku mauu.. jalan-jalan di taman…….”, kata Ai yang kemudian termenung mengingat saat ia berjalan-jalan di taman berdua dengan..

“Cieee.. inget siapa tuuh..?”, ucapan Kumiko membuyarkan lamunan Ai.

“Oh..? engga kok.. euhh.. suka aja jalan-jalan di taman..”, jawab Ai bingung menahan senyum.

“Suka jalan-jalan di taman sama siapa emangnya..?”, goda Kumiko.

“Eh..? umm… euhh…. Sama siapa ya..”, jawab Ai makin gugup menggaruk leher belakangnya dengan muka yang memerah. Sang mama & papa ikut tersenyum melihat Ai.

“Sama orang yang kirim mail ini kan?”, kata Kumiko sambil tiba-tiba menyodorkan HP ungunya yang terbuka ke muka Ai. Ai langsung melihat ada mail baru dari Choushii di layarnya, ia pun menyambar HP kakaknya itu.

“Waa.. ada lagi?!”, kata Ai bersemangat.

“Iya tuh.. baruuu aja masuk.. panjang umur banget lagi diledek-ledekin, tau-tau HP gw getar,eehh.. yang diomongin kirim mail..”, kata Kumiko tersenyum jahil. Ai hanya tersenyum sendiri ke arah HP sang kakak di tangannya. Jantungnya berdegup kencang saat menekan tombol Select.

# Konbanwa~ Eh, Konnichiwa~ ^o^ Ai-chan.. lagi apa? Gw kangeeenn.. >___< Lu gapapa kan disana?Gw td sm skali gabisa jwb quiz,masa quiznya disuruh bikin abstraksi tesis,bikin aja belom pernah.. mana bisa mikir.. >_< ingetnya lu mulu.. ;”p Kabarin gw yah.. I’m worried T_T ~<3  #  Ai terenyuh membaca mail itu. (“Huhu.. Choushi-kun.. gomen ne,gw blum bales..”), batin Ai dalam hati menyesali diri sendiri.

“Lho? Knapa mukanya malah sedih gitu?”, tanya papa yang melihat raut wajah Ai yang merosot sedih.

“hmm..? ngga kok pa, gak sedih.. gara-gara aku yang belum sempet bales tadi..”, jawab Ai lesu lalu menekan tombol Reply & mulai mengetikkan balasan.

# Choushi-kun.. Gomennasaaai.. Baru smpet bales >__< atashi wa daijoubu da yo! ^o^ dakara, shinpai shinaide.. ;D Lu skrg lg apa? Baru pulang kul yah? Udh mkn mlm blum? Gw disini malah lg sarapan skrg,hehe.. kotanya isinya taksi kuning sama gedung-gedung doank, hbs ini mgkn mw liat2 central park.Hikz..jd inget lu.. Cb lu jg ikut T_T huaa.. 😥 Gw jg kangeeenn..bangeeett.. sama lu.. >____< ga sabar besok, pulaaaaaang.. XD #  lalu Ai menekan tombol Send.

“Bilang saja, tenang… Ai-chan gak macem-macem kok disini, hehehe..”, kata sang papa meledek Ai.

“Hehe.. papa apaan sih..”, jawab Ai tersenyum kecil.

Setelah Ai & Kumiko menyelesaikan sarapan, lalu mereka berempat keluar hotel berjalan kaki melihat blok pertokoan dekat situ. Setelah puas hanya cuci mata sebentar karena butik-butik yang ada adalah butik merk-merk terkenal & eksklusif (harganya selalu membuat Ai & Kumiko menganga lebar & sang mama terus mengucapkan “dame..takai”), akhirnya papa memanggil taksi & mereka meluncur ke central park. Di sana mereka berjalan-jalan melihat taman yang ternyata sangat luas. Di dalamnya terdapat danau besar yang indah, rumput hijau yang terlihat sangat nyaman untuk diduduki, pohon-pohon besar yang teduh, rumpun-rumpun bunga yang diatur apik sepanjang jalan-jalan setapak, jembatan besar yang indah menyebrangi danau besar di tengahnya, angsa-angsa danau yang bisa dikendarai dengan cara dikayuh.

Walau selama di taman menyenangkan,Ai tetap tidak bisa sepenuhnya bersenang-senang, karena pikirannya selalu tertuju pada orang yang paling berarti untuknya, tetapi tidak ada di sampingnya saat itu. Ai sedih, (“andai Choushi ada di sini.. jalan-jalan bareng.. just like we used to..”), batin Ai dalam hati.

“Oy.. Ai-chan! Ada balesan lagi nih!”, teriak Kumiko dari kursi taman ke arah Ai yang sedang berdiri di pinggir danau termenung.

“Ai-chan!! Oey..!!”, teriak Kumiko semakin keras. Ai tersentak kaget mendengarnya.

“A..!! Haai’..!!”, kata Ai buru-buru berbalik mendatangi Kumiko. Papa & mama juga duduk di samping Kumiko.

“Nih.. Saiyuki bales lagi..”, kata Kumiko menyodorkan HPnya ke Ai.

“Choushi.. bukan saiyuki”, kata Ai cemberut menerima HP kakaknya.

“Hehe.. ya itulah pokoknya”, kata Kumiko santai. Ai lalu membuka HP kakaknya sambil berjalan ke tepi danau.

# Gw udh mkn kok,skrg msh ngerjain coding,deadline besok T_T pdhl udh ngantuk bener dah >_< Lu kpn pulangnya? :”p # Ai melirik jam tangannya, pukul 12.38 siang waktu New York. (“Berarti hampir jam 1 malam di Jakarta sekarang”), pikir Ai lalu mengetikkan mail balasan.

# Wew.. msh coding? >_< ngantuk kan?gak bobo aja?gw pulangnya bsk pagi jam 09.40 waktu New York,brarti kira2 jam 7 pagi lusa baru landing diJkt. Knp?ada yg nungguin gw yaah?hihi.. jd enak X”D #

# Gak jd ngantuk tuh,hihihi.. Xp Mmm.. sapa yaah..? :”p gak tau tuuh.. ada yg nanyain lu mulu, Ai kpn pulangnya? Kpn bisa ktemu lagi? Kyknya orgnya kangen bgt tuh sm lu X”) mikirin luu..mulu.. X”p hihihi.. # Ai tersenyum geli membacanya.

“Hihihi.. Choushi-kun.. pake gak ngaku.. gw kan tau..”, gumam Ai di tepi danau.

# Wkwkwk.. pk gak ngaku lu! XD hihihi.. iya deh.. kl gt,salamin aja yah bwt orgnya,blg ke dy kl gw jg kangen.. :”> gak sabar pgn balik >__< & blg jg ke dy,kl gw skrg lg pk mini-skirt kotak2 abu2 ;p #

# Uwaahh.. Mau liaaaat~ >__< # Ai langsung tertawa membacanya.

# Waakakakak.. XD Nah,ketahuan yaa siapa org itu sebnrnya.. Nyuahahaha.. >;D #

# Eh..? *glek!*  mmm… uhhhh… gimana yah.. aduh.. >___< Lu lg apa skrg say? Lg jln2 yah? #

# Hahaha.. Mlh ngalihin pmbicaraan, wkwkwk.. XD Gw lg di Central Park,tamannya luas bgt.. Ada danaunya ^o^ tp gakda lu,jd gak seru.. >__< ada angsa putih guedee di danaunya.. hohoho #

# Hikz.. gw jg pengeen.. pk pintu kmana aja,trs lgsg muncul di samping lu.. :”> Ho? Angsa gede..? emgnya segede apaan? Segede kalkun? Wkwkwk.. #

# Segede bajaj..!! ada joknya 2,bisa dikayuh bwt keliling danau, wekekek.. lu kira angsa bnran yah? Wakakak..XD #

# Ooh.. wakakak.. Waaw.. Mauuuuuu~ T____T huhuhu.. Lu udh coba angsanya itu? #

# Udah td sm kk gw.Qta sama2 boring gt td,wkwkwk.. sama2 kangen sama pasangan masing2. Hihi..Egh..?! *kok gw ngomongnya gitu yak*  >_< euhhh.. waqs.. kyaaaaaa~ =>_<= #

# Hihihi.. waahh.. senangnyaa.. ^o^ *GR gw kumat stadium 3* X”p #

———————–

Fukkatsu no Yume (part.1)

Cerita ini dibuat dari mimpi.. mimpi buruk.. yg sering bgt ay dapetin seumur hidup.. tapi baru kali ini, yang bener-bener sediih.. walau temanya sama sejak mimpi2 spt ini waktu masih kecil.. but this is really.. >__< ya gitu deeh… pokoknya baca aja yah.. hehehe.. Enjoy.. ^o^

———————

Matahari baru saja bangun dari tidurnya, mulai menerangi langit pagi di sudut kota jakarta bagian timur. Tidak seperti biasanya, Ai sudah terbangun dari tidurnya sejak jam 5 pagi dengan penuh semangat & keceriaan. Dan sekarang ia sedang sibuk mondar-mandir dalam kamarnya.

“Tumben kamu jam segini sudah bangun? biasanya masih tidur..”, tanya sang mama berdiri heran depan kamar Ai.

“Kan mau siap-siap ma! Kapan lagi papa ketiban rejeki dapat undangan ke New York?Berempat lagi! aku kan belum pernah ke amerika ma..”, jawab Ai sambil mengambil 3 potong kaos dari laci lemarinya.

“Mama juga belum pernah ke New York..”, timpal sang mama.

“Yee.. tapi kan mama udah pernah ke LA, Disneyland pula!”, seru Ai cemberut.

“Iya deh.. ya udah kamu siap-siap jangan kebanyakan.. jangan lupa gaunnya! jangan celana sama kaos aja! cari gaun juga yg feminim.. kita di sana cuma 2 hari, jadi kamu jangan…”

“aduuh.. iya ma! ngerti.. ngertiiii.. I know what I have to do.. bawel ah..”, kata Ai ga sabar.

“heuhh.. dasar kamu.. Oya, sudah kabari oneechan tentang jam berapa acaranya? sama hotel tempat kita menginap? sama..”, kata mama sambil menghitung dengan jarinya. (oneechan = kakak perempuan)

“Sudah kok ma.. kemarin aku sudah chatting sama Oneechan, jadi besok sama-sama langsung cek-in ke hotel kita juga. Aku juga sudah suruh untuk sesuain jam sini, Tokyo & New York, takutnya ngga singkron.” terang Ai panjang lebar. Maklum, kakak perempuan Ai yang tinggal di Tokyo akan ikut datang ke New York,sedangkan kakak laki-laki Ai tidak bisa ikut.

“Good..”, kata mama lalu ngeluyur pergi dari depan kamar Ai.

Setelah koper kecilnya terisi sesuai dengan instruksi sang mama, Ai menghela napas & duduk di tempat tidurnya. Jam menunjukkan pukul 08.42, Ai melakukan cek dari daftar tugas dalam pikirannya (“visa & tiket sudah di mama,cek! kasih tau oneechan soal jadwal acara & tempat nginep,cek! siapin koper sendiri, cek! mmm.. oiya, mp3 player hampir lupa! nah.. Hmm.. apalagi ya…”), pikirnya menerawang sambil menatap ke luar jendela di sebelah tempat tidurnya.

“Choushi-kun lagi apa yah..?”, katanya tiba-tiba. Lalu ia mengambil HP motorola L7 hitam miliknya, terlihat gantungan kelinci putih dari bahan porcelain yang lucu selalu tersenyum menghiasi ujung HPnya. Ai mulai mengetikkan sms.

# Ohayou.. ^o^ Choushi-kun.. Udh bangun blum lu? ato msh peluk2 selimut sambil diilerin? hiiy.. >_< Wkwkwk..XD # Ai menekan Send. (Ohayou = selamat pagi). Tak lama kemudian ada sms masuk, & itu adalah balasan dari sms tadi.

# Ohayou.. Ai-chan.. ^o^ Hehehe iya masih boboan.. :p lu brgktna jd sore ini ya? >_< # setelah membaca itu Ai langsung mengetikkan balasannya.

# iyah, pesawat take-off jam 17.15. Hikz.. Wish u could come too.. T__T # bibir Ai melengkung turun.

# iyaah.. Hikz… Tapi ya udh, gapapah.. Next time, maybe it will be just u & me.. (lho?) hehehe..XD # Ai tersenyum membaca balasan itu.

# Amiin.. ^_^ eh,lu jgn lupa sarapan yak? gw br mw sarapan neh,trs bantu papa gw siapin kopernya. Lu jgn manyun aja yaak..? Xp Semangaaat..!! I won’t be gone for long.. Aitakatta yo!! >__< # lalu Ai mengirim sms itu sambil menggenggam kelinci putih yang tergantung di HPnya (Ai namai kelinci itu Shiroi Usagi), seperti berharap kelinci itu dapat menyampaikan apa yang ia rasakan saat itu. (aitakatta yo=kangen).

# Atashi mo.. (Lho kok atashi?!) wekekek.. XD iya ntar gw sarapan, skrg gw mandi dulu deh.. # Ai pun tersenyum membaca sms itu,lalu bangkit menuju kamar sang papa. (Atashi = aku (untuk perempuan)).

—————–

Sepanjang hari itu Ai membantu papa & mamanya menyiapkan isi koper mereka. Walau pikiran Ai sibuk memikirkan macam-macam persiapan, membayangkan seperti apa New York itu, pikirannya selalu tertuju pada 1 hal, yaitu (“aku takkan lama di sana,cuma 2 hari,lalu aku kembali,& bisa bertemu dengan dia lagi”) Ai selalu mengangguk sendiri saat memikirkan itu. Akhirnya pada jam 15.48 Ai & kedua orang tuanya tiba di airport Soekarno-Hatta, diantarkan oleh Yoshi,kakak laki-laki tertua Ai dengan istri & anaknya.

“Mumpung masih jam segini, mending pada langsung urus cek-pesawat aja, jadi tenang & bisa nunggu di dalam”, kata Yoshi sambil menurunkan koper sang papa & mama dari belakang mobil Toyota hitam.

“Iya.. Mana sini ma, tiket-tiketnya? biar aku yang urus “, kata Ai sambil menurunkan kopernya sendiri.

“Hai’.. Nih..” jawab sang mama sambil menyerahkan tiket-tiketnya ke Ai. Setelah itu mereka saling mengucapkan salam perpisahan dengan Yoshi & keluarganya.

“Jaga papa mama ya, Ai-chan!”, seru Yoshi sambil menepuk kepala Ai.

“Un.. wakatta yo..”, jawab Ai mengangguk-angguk. (wakatta = dimengerti). Setelah itu Yoshi & keluarganya pulang, Ai & kedua orang tuanya mengantri di loket cek-in pesawat. Sambil mengantri, Ai mengeluarkan HPnya dari dalam tasnya & mulai mengetikkan sms.

# Uuy.. ima nani o shite iru no? Gw udh di airport,lg antri cek-in tiket sama bagasi.. Lu udah gak manyun lagi kan..? ;;) *ting-ting* # lalu Ai mengirimnya. (ima nani o shite iru no? = lagi ngapain nih sekarang?). Semenit kemudian ada sms balasan,yang isinya teramat singkat & membuat Ai menjadi sedih.

# Ngga.. # Ai langsung merosot di trolly koper yang sedang ia dorong. Ai mengerti benar kalau isi sms singkat itu berlawanan dengan yang sebenarnya,yaitu Choushi masih manyun di kantornya.

# Huhuhu..T__T berarti lu pasti masih manyun.. You can’t lie to me, I always know how you really feel, remember? Jgn sedih dunk say.. >__< I’ll be going for 2 days only,hbs itu lgsg pulang kok.. Males jg gw disana lama2,gakda lunya.. 😥 Ntar slama disana akan tetep bisa contact kok,klo HP gw ga bisa,gw akan cari cara.. Pinjem HP kk kek,rampok laptop org kek,bajak communication tower kek.. Wkwkwk.. XD # Choushi yg membaca itu tersenyum.

# OK.. I’ll be ok.. ^_^ udh gak manyun lg kok,hehehe.. Promise me you’ll take care.. # Ai pun tersenyum membaca sms itu,lalu mengetikkan balasannya sambil sebelah tangannya menggenggam erat Shiroi Usagi.

# Aa.. Choushi-kun wa atashi no koto ga shinpai-suru n da yo ne..?!? Ureshii na.. ^o^ Huehehe.. Tentu aja gw akan jaga diri,kan gw pgn cepet2 pulang dgn slamat,& seeing u again!! XD eh,gw urus cek-in tiket dulu yah.. ;D # Tiba giliran Ai untuk cek-in tiket & bagasi. (Choushi-kun wa atashi no koto ga shinpai-suru n da yo ne = Choushi mengkhawatirkan keadaanku ya). (Ureshii na = Senangnya). Setelah proses selesai & smua koper sudah ditimbang & ditandai, mereka bertiga lanjut ke bagian imigrasi & akhirnya duduk di ruang tunggu depan gate 9A. Masih sejam lagi waktu untuk mausk ke pesawat, Ai segera mengutak-atik HPnya agar bisa tetap digunakan di negara lain. Ternyata lumayan rumit, & lama prosesnya,hingga Ai khawatir prosesnya takkan selesai sebelum berangkat. Ditengah kemumetannya, sang papa yang duduk di samping Ai bertanya.

“Bagaimana kabar Choushi-kun? Gpp kan kamu tinggalin 2 hari?”, kata papa sedikit nyengir menggoda Ai.

“Eh..? oh.. (Ai bisa merasakan mukanya sendiri memerah) umm.. iya gapapa kok pa..”, jawab Ai malu.

“Kare wa Ai-chan ga shinpai suru de gozaimasu ka..?”, tanya sang papa, yang makin membuat Ai malu. (Kare wa Ai-chan ga shinpai suru de gozaimasu ka? = Dia (laki-laki) mengkhawatirkan Ai kah?).

“Ah papa.. hehe, chotto dake da, daijoubu desu..” Ai semakin malu & senyum-senyum sendiri teringat Choushi yang tadi sebenarnya sangat mengkhawatirkannya. (chotto dake da, daijoubu desu = hanya sedikit, tidak apa-apa). Sang mama ikut melihat tingkah Ai,yang akhirnya membuat Ai ‘kabur’ ke dinding kaca terluar di dekat Gate.

Cukup lama Ai berdiri memperhatikan pesawat-pesawat jumbo jet yang hilir-mudik di runway. (“New york itu kyk apa ya..”),pikirnya tiba-tiba. Llau pikirannya mengingat-ingat film apa saja yang lokasinya di New York,& ia membayangkan film godzilla, kota New York dengan gedung-gedung tinggi, view kota dari atas pada malam hari, godzilla raksasa berlari menabrak gedung-gedung..(“lho?!”) seketika itu Ai merasa geli sendiri, (“kenapa malah mengingat-ingat godzillanya? dasar bodoh..”) Ai pun tertawa kecil sendiri sambil geleng-geleng kepala. Lalu ia mengganti isi pikirannya dengan ingatannya saat di Tokyo. (“Hmm.. gedung-gedung tinggi seperti yang kulihat dari atas Tokyo tower.. Udara dingin.. Suasana kota modern yang penuh lampu di malam hari, & ramai pejalan kaki.. Mungkin kaya gitu ya..”), pikir Ai. Tiba-tiba tasnya bergetar, terdengar alunan piano intro lagu coldplay “clocks” dari HPnya. Ternyata Choushi menelepon.

“Heey.. Moshi-moshi..”, sapa Ai sambil tersenyum sendiri.

“Halo.. Ai-chan.. udah mau take-off?” tanya Choushi di seberang telpon.

“Belum.. masih setengah jam lagi lah kira-kira.. Skarang masih nunggu masuk pesawat.” jawab Ai.

“Oo.. Yaaaahh…” terdengar Choushi yang kecewa.

“kok ‘Yaaaahh’..? hihihi.”

“Iya.. gw kirain gak jadi gitu.. hahaha..”

“Hehehe.. I kinda wished that too.. hihi.. Lu sedih yaak mau gw tinggal? “, Tanya Ai dengan muka jahilnya.

“Hm..? umm… enggaa..”, jawab Choushi.

“Hahaha.. jangan bo’ong lu.. hayoo ngakuuu..”, Ai makin memojokkan Choushi.

“Ah engga kok.. Bener…”, Choushi berusaha meyakinkan.

“Hihihi.. Don’t lie to me.. I Know..!! Hihihi..”, Ai susah payah menahan geli.

“Umm.. Euhhh.. gimana yah… hadoh..”, Ai makin kegelian mendengar jawaban Choushi.

“Hahaha.. Ureshii naa.. ada yang sedih mau gw tinggal, hihihi..”, Ai sudah mulai terlihat kegelian diluar kewajaran. Akhirnya Choushi mengaku yang sebenarnya.

“Huhu.. Iyalah.. habisnya.. jauh banget….”, terdengar nada sedih Choushi, Aipun ikut menurunkan nada bicaranya.

“Hey hey.. Kanashikunai de kudasai.. gak lama kok.. I won’t be gone forever..”, hibur Ai. (Kanashikunai de kudasai= jangan bersedih). Namun tampaknya kurang berhasil karena kemudian Choushi hanya diam saja di seberang telpon.

“Hallo..?”, panggil Ai mencari suara Choushi.

“Mmm..? ya.. halo..”, jawab Choushi pelan.

“Lu gak denger yah?”

“Denger kok…”

“Kok diem aja..?”, Tanya Ai.

“Gapapah..”, jawab Choushi berbohong.

“Choushi-kun.. I’ll get back soon.. Yokusoku suru..”, kata Ai bersungguh-sungguh. (Yokusoku suru = Aku janji). Di seberang telpon terdengar tawa kecil Choushi.

“hihi.. Okaay..”, sahut Choushi mulai ceria kembali. (“I would hug you now if you were here..”) pikir Ai dalam hati yang kemudian ingin sekali rasanya untuk tidak ikut pergi.

“Hheuuhhhh…..”, Ai menghela napas panjang.

“Eh? Lu knapa?”, tanya Choushi.

“Egh.. Ehem! Gapapah..”, gantian Ai yang berbohong. Choushi hanya cekikikan mendengarnya.

“Eh iya! Rencana nyobain arena paintball baru, jadi kan?”, Tanya Ai penuh semangat.

“iyaa.. Jadi doong..”, jawab Choushi tak kalah semangat.

“Hehe.. Horee..Jadi lu jangan kesana duluan yak! Tungguin gw..”, kata Ai.

“Iya.. Gw akan tunggu. I’ll wait..I’ll wait.. As long as you want…”, jawab Choushi yang kemudian menirukan lagu good charlotte sambil tertawa kecil. Hal ini membuat Ai kaget, lalu menutup mulutnya karena tak percaya apa yang baru saja ia dengar. (“lagu itu..uwaa..kyaa..”) batin Ai langsung histeris sendiri. Susah payah Ai menahan luapan kegembiraan, hingga tetap terdengar tawanya yang cekikikan, ia hanya bisa berkata “Hontou ni..?” sambil gemetaran.

“Hontou..”, jawab Choushii. Ai semakin kebingungan menutupi kegembiraannya, ia merasa perutnya geli seperti banyak kupu-kupu di dalamnya, & yang terdengar hanya tawa mereka berdua yang sama-sama susah ditahan. Ai merasakan seluruh tubuhnya membumbung tinggi karena senang. Cukup lama mereka hanya saling cekikikan menahan rasa malu. Saking gemasnya, Ai sempat mengecup shiroi usagi yg tergantung di HPnya. Maklum, kelinci putih itu adalah pemberian Choushi di hari yang paling menyedihkan sekaligus sangat berkesan untuk mereka berdua.

“Terasa gak?”, tanya Ai tiba-tiba.

“Hm..? Apaan? “, tanya Choushi bingung.

“Waakakak.. ada deeh.. hihihi…”, kata Ai geli.

“eeh..? apaan yaah..?”, tanya Choushi makin ga ngerti.

“Gapapaah.. Laalala..”, jawab Ai tertawa puas.

Tiba-tiba terdengar suara menggema yang menyebutkan penerbangan Ai menuju New York akan segera berangkat & seluruh penumpang dimohon untuk segera memasuki pesawat. Benar saja, gate 9A sekarang sudah terbuka dengan kedua petugas yang siap memeriksa tiket calon penumpang. Melihat ini, Ai langsung menunduk, sedih.

“Sudah waktunya ya?”, tanya Choushi yang ternyata ikut mendengar pengumuman di loudspeaker tadi. Ai diam saja, berat sekali rasanya harus menjawab ‘ya’.

“Ai-chan..?”, panggil Choushi.

“….ya…?”, jawab Ai lemas.

“Bayangin aja, skarang gw juga ada di sana, ikut anterin lu.. & gw…… meluk lu…”, kata Choushi. Ai yang mendengar itu makin merasakan sesak di dadanya, ia menarik raut wajahnya kuat-kuat menahan sedih. (“Choushi-kun…..”), panggilnya dalam hati.

“…..iyah….”, suara Ai begitu gemetar, hingga Choushi tahu kalau Ai sedang menahan tangisnya. Lalu, entah darimana asalnya, Ai merasakan ada rasa hangat yang seperti menyelimuti pundak, leher & seluruh tubuhnya.

“It’s happening again… Somehow.. I can feel you..”, kata Ai sambil memejamkan matanya, ia merasa begitu nyaman.

“Hehehe.. ya kan? Horee.. Makanya, jangan sedih lagi yah? tinggal inget gw aja sambil liat shiroi usagi, ntar juga terasa.. Pasti anget-anget adem geli gimanaaa gitu..”, kata Choushi berusaha menghibur Ai, & ia berhasil, Ai langsung tertawa kecil.

“Hihi.. Lu bisa aja… Terasa nyaman kok, gak ada geli-gelinya.”, kata Ai.

“Ai-chan…… Aishiteru…”, kata Choushi tiba-tiba.

” ………..Atashi mo…… Aishiteru…”, jawab Ai sambil tersenyum & menitikkan air mata.

“ja…. mata ne, Choushi-kun….”, kata Ai lagi.

“Mata aimashou, Ai-chan…. Daah..”,  jawab Choushi.

“Daaaah….”, jawab Ai lalu menutup telponnya & mencium shiroi usagi sekali lagi sebelum mendatangi papa & mamanya untuk masuk pesawat bersama.

———————-

My Personality

Click to view my Personality Profile page

How Geek am I..??

Created by OnePlusYou

my True friends’s test..

March 2010
M T W T F S S
« Oct   May »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031