ADA satu cerita berbunyi begini, semalam kawan saya dan isterinya mengundang beberapa orang untuk makan malam di rumah. Isterinya pun sejak pagi sudah rnempersiapkan segala masakannya. Ketika semua tamu datang, isterinya menyuruh anaknya yang berusia enam tahun untuk membaca doa sebelum makan.
“Afiq, kamu pimpin baca doa ya.”
“Tapi mak, doanya bagaimana?” tanya Afiq.
“Katakan saja apa-apa yang biasa ibu katakan,” kata isteri saya.
Afiq segera menadah tangan dan berkata, “Ya Tuhanku, kenapa saya harus mengundang orang-orang ini makan malam.”
Kita tidak perlu berbuat apabila tidak ingin untuk berbuat. Tidak perlu berpura-pura untuk mengambil hati. Risikonya berat, marah, dan hilang keikhlasan. Lebih baik kelihatan macam orang pelit tetapi hatinya baik daripada nampak pemurah tetapi hatinya merana.
Kehidupan kini selalu menyaksikan jamuan makan-makan diadakan dalam berbagai acara. Makan-makan sudah jadi trend di kantor, bahkan di mana-mana saja. Yang membuatnya melakukan karena takut dikatakan tidak prihatin manakala yang diundang berusaha hadir sebab takut dikatakan tidak peduli.
Tanpa menafikan kejujuran dan keikhlasan, apa yang dipaparkan di atas bukanlah sesuatu yang mustahil. Memang ada orang buat undangan supaya orang datang dan masuk ke dalam rumah dan memuji-muji cantik rumahnyanya, mahalnya barang-barang perhiasan dan kayanya si tuan rumah, sedangkan acara makan-makan sekadar alasan untuk menarik orang datang.
Serupa seseorang yang asyik menuding ke atas tatkala bercerita, sebenarnya ingin menunjukkan jam tangan mahal yang baru dibelinya. Seorang yang menawarkan diri hendak mengantar seseorang sebenarnya hendak menunjukkan bahwa dia sudah punya mobil baru.
Pelbagai taktik dilakukan oleh manusia untuk mengelabui mata manusia. Dengan pelbagai alasan untuk menyembunyikan maksud sebenarnya, semuanya lebih diketahui oleh Allah S.W.T.
Firman Allah S.W.T. yang bermaksud, “Mereka coba menyembunyikan (keburukan) daripada manusia, tetapi mereka tidak mampu (berlindung) daripada (pengetahuan) Allah S.W.T.” (An-Nisa: 108).
Kadang-kadang apa yang dilakukan bisa dibaca maksudnya tanpa perlu memikirnya. Betulkah syukuran untuk kesyukuran atau hendak beritahukan bahwa anaknya sudah masuk universitas dengan megah dan bangganya. Betulkah ajak kawan-kawan makan karena ikhlas atau sebenarnya hendak tunjukkan banyak duit walaupun pada akhir bulan. Betulkah ganti mobil selalu sebab benar-benar mampu atau sedang perang persaingan kekayaan.
Seharusnya merasa malu dengan muslihat sendiri yang diada-adakan. Sesuatu perbuatan baik yang dilakukan atas maksud riya dan pamer, tiada nilainya di sisi Allah S.W.T.
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Malu dan amanah ialah perkara yang mula-mula sekali hilang dari dunia ini, oleh sebab itu mintalah kepada Allah S.W.T. demi kedua-duanya.”
untuk apa berbuat..
October 1, 2009 by ayoe_ravenclaw
feel free to stroll around this blog
& leave comments.. Have fun & Enjoy.. (^.^)y 




